Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sriwijaya FC Turun ke Liga 3 Usai Musim Tanpa Kemenangan
Otto Kapisa pemain Sumsel United eks Sriwijaya FC (Dok. Instagram Otto Kapisa)
  • Sriwijaya FC resmi terdegradasi ke Liga 3 musim 2025/2026 setelah menutup kompetisi tanpa kemenangan dan kekalahan terakhir 4-0 dari Adhyaksa FC Banten.
  • Dari total 27 laga, Sriwijaya FC hanya meraih dua hasil imbang dan menelan 25 kekalahan, mencatat performa terburuk sepanjang sejarah klub akibat masalah internal dan finansial.
  • Klub legendaris asal Palembang ini kini terlilit utang sekitar Rp42 miliar, kehilangan investor, dan harus berjuang membangun kembali kejayaan yang pernah diraih pada era emas 2007–2012.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
23 Oktober 2004

Sriwijaya FC resmi didirikan saat Pemerintah Provinsi Sumsel dipimpin oleh Gubernur Syahrial Oesman, menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumsel.

2007

Sriwijaya FC mencapai puncak kejayaan dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia secara bersamaan.

2008 hingga 2011

Sriwijaya FC berpartisipasi di AFC Cup sebagai wakil Indonesia dan memperluas reputasinya di level Asia.

25 Februari 2026

Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin, yang memimpin saat Sriwijaya FC tampil di AFC Cup, meninggal dunia.

2012

Sriwijaya FC kembali berjaya dengan menjuarai Indonesia Super League (ISL).

medio 2015–2018

Performa Sriwijaya FC menurun akibat konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen.

2019

Sriwijaya FC terdegradasi ke Liga 2 setelah gagal mempertahankan performa di kasta tertinggi sepak bola nasional.

2023

Klub mengalami kesulitan finansial serius karena minimnya sponsor yang mendukung operasional tim.

31 Desember 2025

Dukungan utama terhadap Sriwijaya FC dihentikan sehingga operasional klub terganggu berat menjelang musim baru.

Februari 2026

Sriwijaya FC dipastikan degradasi dari Liga 2 setelah kalah dari Sumsel United dalam laga se-provinsi.

Mei 2026

Hingga akhir musim reguler, Sriwijaya FC mencatat hasil buruk tanpa kemenangan dari total 27 laga sepanjang kompetisi Liga 2 musim 2025/2026.

2 Mei 2026

Sriwijaya FC kalah telak 4-0 dari Adhyaksa FC Banten di Banten International Stadium dan resmi tersingkir dari Liga 2.

kini

Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3 dengan kondisi finansial krisis dan utang besar, meninggalkan kenangan masa kejayaan mereka di sepak bola nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sriwijaya FC resmi terdegradasi dari Liga 2 musim 2025/2026 setelah menutup kompetisi tanpa satu pun kemenangan dan hanya mengumpulkan dua poin dari total 27 pertandingan.
  • Who?
    Tim sepak bola Sriwijaya FC, berjuluk Laskar Wong Kito, serta lawan terakhirnya Adhyaksa FC Banten yang mengalahkan mereka dengan skor 4-0 di laga penutup.
  • Where?
    Pertandingan terakhir berlangsung di Banten International Stadium, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dalam lanjutan Grup 1 Wilayah Barat Liga 2.
  • When?
    Laga penentuan degradasi terjadi pada 2 Mei 2026, menandai akhir musim kompetisi Pegadaian Championship Liga 2 tahun 2025/2026.
  • Why?
    Keterpurukan Sriwijaya FC disebabkan oleh performa buruk sepanjang musim, masalah finansial mencapai sekitar Rp42 miliar, serta ketidakstabilan manajemen klub yang berlarut-larut.
  • How?
    Sriwijaya FC gagal meraih kemenangan dalam seluruh laga musim ini, hanya mencatat dua hasil imbang dan menelan 25 kekalahan hingga akhirnya dipastikan turun ke Liga Nusantara (Liga 3).
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sriwijaya FC kalah terus dan tidak pernah menang di Liga 2. Mereka main sampai selesai tapi tetap turun ke Liga 3. Waktu lawan Adhyaksa FC, mereka kalah 4-0. Dulu Sriwijaya FC tim hebat dan sering juara, tapi sekarang susah karena uangnya habis dan orang-orang di klubnya banyak masalah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Sriwijaya FC (SFC) resmi menutup kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 dengan hasil memilukan. Klub legendaris yang dikenal gagah pada masa kejayaannya terpaksa mengakhiri musim tanpa satu pun kemenangan. Tim berjuluk Laskar Wong Kito pamit dengan gelar degradasi ke kasta Liga Nusantara (Liga 3).

Sriwijaya FC menyelesaikan semua laga Grup 1 Wilayah Barat dan menutup pertandingan dengan kekalahan telak 4-0 saat dijamu Adhyaksa FC Banten. Skuad Elang Andalas tersingkir dari Liga 2 di Banten International Stadium, Kabupaten Serang, 2 Mei 2026.

1. Sriwijaya FC kalah telak di laga terakhir

Pemain Sriwijaya FC musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 (Dok. Sriwijaya FC)

Saat bertemu klub asal Banten itu, Sriwijaya FC sudah kalah di awal. Sebab tuan rumah terus menggempur pertahanan sejak menit awal. Adhyaksa FC membobol gawang Laskar Wong Kito secara bertubi. Empat gol mereka diraih tanpa balas dari Elang Andalas.

Gol dari Adhyaksa FC dicatatkan oleh Rafly (22') (80'), Ramiro Fergonzi (73') dan Rafly Angga (90+2). Meski menang, Adhyaksa FC tetap tak mampu mengkudeta Garudayaksa FC dari puncak klasemen Grup A. Sehingga, Adhyaksa FC jadi runner up Grup A dan masih akan bertarung demi bisa mendapatkan satu tiket tersisa ke Liga 1 musim depan.

2. Sriwijaya FC sudah terlihat degradasi sejak Februari 2026

Pemain Sriwijaya FC (dok. Media officer untuk IDN Times)

Sementara nasib Sriwijaya FC pada musim ini jadi kondisi paling rendah. Hingga akhir musim reguler pada Mei 2026, catatan statistik Laskar Wong Kito sangat memprihatinkan. Dari 27 laga, Sriwijaya FC hanya mampu meraih hasil 2 kali seri dan 25 pertandingan lainnya menelan kekalahan. Klub cuma bisa mengantongi 2 poin sepanjang kompetisi.

Bahkan kekalahan terbesar Sriwijaya FC sempat mereka dapatkan. Yakni dibantai habis oleh Adhyaksa FC pada putaran pertama dengan skor 15-0. Kondisi klub yang kian buruk ini tak terlepas dari keadaan internal tak stabil. Masalah finansial hingga persoalan struktur kepengurusan pun jadi penyebab utama Sriwijaya FC keos.

Berdasarkan pencapaian, sebenarnya Sriwijaya FC sudah gagal dan dipastikan degradasi sejak Februari 2026 usai kalah dari klub se-provinsi Sumsel United. Namun setelah pertandingan tersebut, Laskar Juaro masih harus profesional menyelesaikan sisa laga.

3. Kondisi krisis Sriwijaya FC picu klub degradasi

Sriwijaya FC (Dok. Media Officer)

Melihat riwayat dan kondisi klub yang krisis, prestasi Sriwijaya FC makin merosot dipengaruhi karena manajemen kesulitan mendapatkan investor baru. Klub dikabarkan memiliki utang hingga Rp42 miliar. Masalah ini kian menyulitkan langkah Sriwijaya FC untuk berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Sekarang? Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3. Klub yang dahulu disegani hanya menyisakan kenangan tentang masa kejayaan.

Namun jika melihat sejarah panjang pemilik gelar double winner, Sriwijaya FC memang mempunyai kharisma. Tim yang lahir pada 23 Oktober 2004 saat Pemerintah Provinsi Sumsel dipimpin Gubernur Syahrial Oesman ini menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumsel.

Laskar Wong Kito pernah meraih puncak kejayaan pada tahun 2007. SFC sukses menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia sekaligus. Prestasi tersebut berhasil mengangkat derajat klub sebagai kekuatan baru di sepak bola nasional.

Kejayaan tim berlanjut, pada tahun 2008 hingga 2011, Sriwijaya berkesempatan berlaga di level Asia dalam partisipasi klub di AFC Cup. Ketika itu, Sumsel dipimpin oleh Gubernur Alex Noerdin yang telah tutup usia pada 25 Februari 2026.

4. Kondisi finansial Sriwijaya FC kian berat sejak akhir 2025

(Dok: MO Sriwijaya FC)

Usai terlibat dalam even Asia, nama Sriwijaya FC makin dikenal luas sebagai tim elit Indonesia. Pada 2012, kejayaan kembali terulang. Tahun itu, SFC sukses menjadi juara Indonesia Super League (ISL). Namun, pada medio 2015–2018, performa klub mulai menurun.

Konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen perlahan menggerus kekuatan tim. Hingga akhirnya pada 2019, SFC harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke Liga 2. Sepanjang tahun itu, alih-alih bangkit, krisis klub justru kian dalam. Sejak 2023, Sriwijaya FC dilanda kesulitan finansial akibat minimnya sponsor. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, saat dukungan utama dihentikan dan operasional klub terganggu berat.

Editorial Team