Ilustrasi tumpukan atap genteng (unsplash.com/ Jametlene Reskp)
Ardani menjelaskan, berdasarkan tinjauan dari material atau dari bentuk seng (Zn), ada atap seng berbentuk genteng. Ada atap berbahan logam, tetapi bukan dari seng. Secara awam, atap seng terbuat dari lembaran logam tipis berbentuk gelombang.
Seng secara definisi itu diakuinya memang cenderung mudah berkarat. Karena kandungan logam atau besinya lebih banyak dan tidak dilapisi aluminium, tidak dicat, tidak di-coating, atau polos.
"Berbanding dengan jenis lain seperti atap Zincalum, genteng metal, Alkan, spandek, yang kandungan aluminiumnya lebih banyak. Terutama di lapisan luar yang sudah di-coating," jelas dia.
Jadi, pengertian genteng yang dimaksud juga harus diperjelas lagi, apakah genteng berbahan metal berbentuk genteng, atau genteng tanah liat.
"Kalau genteng berbahan tanah liat, tentu banyak hal yang harus diganti. Bukan hanya atapnya saja, dan itu memakan banyak biaya. Otomatis biaya konstruksinya juga bertambah," timpalnya.
Tidak hanya melihat kepentingan dan keperluan penerapan gentengisasi, program ini juga harus ditelaah mendalam untuk keberlanjutan ke depan. Karena, produksi genteng dari tanah liat kini memakan waktu cukup lama dan tidak singkat.
Bagi pemilik usaha pembuat genteng, gentengisasi untuk semua permukiman warga bukan hal mudah. Kata Hermandi, pelaku usaha genteng di Jalan Camat, Kelurahan Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin, dalam kondisi sekarang, pembuatan genteng memakan waktu berhari-hari karena cuaca tak mendukung dan membutuhkan ketelatenan yang cukup tinggi.
“Susah sekarang mendapatkan tanah liat kualitas terbaik. Karena bahan baku tanah liat harus bagus untuk dijadikan genteng. Belum lagi proses buat lama dan butuh cuaca panas, biar proses penjemuran tidak terhambat. Kalau secara manual (pembuatan genteng) salah satu yang perlu diandalkan tidak hujan. Susah bahannya sekarang, apalagi kalau bener (gentengisasi wajib) otomatis semua daerah pakai (genteng) bahan baku sedikit makin susah," jelas dia.