Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi AIDS
Ilustrasi AIDS (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Kasus HIV/AIDS di Sumsel menjangkiti heteroseksual, biseksual, dan homoseksual.

  • Heteroseksual menjadi penyumbang tertinggi kasus HIV/AIDS dengan 533 orang pada tahun lalu.

  • Faktor risiko penularan HIV/AIDS juga meliputi penggunaan jarum suntik tidak steril dan perinatal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Penularan kasus HIV/AIDS di Sumatra Selatan tak hanya menulari kelompok masyarakat tertentu. Sejumlah kasus HIV/AIDS menunjukan pola yang meluas ke masyarakat umum.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah menjelaskan, kasus penularan HIV/AIDS bisa menimpa seorang homoseksual, biseksual, dan hetereoseksual. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku seksual aman menjadi salah satu penyebab utama masih tingginya kasus baru.

"Penyebab tertinggi kasus HIV/AIDS masih karena heteroseksual yang mencapai 533 orang pada tahun lalu. Kemudian biseksual 15 orang," ungkap Ira, Rabu (21/1/2026).

1. Penularan karena homoseksual menurun

Ilustrasi AIDS (freepik.com/jcomp)

Di tempat kedua dengan kasus tertinggi HIV/AIDS terjadi pada kelompok pasien homoseksual. Dari data Dinkes Sumsel tercatat ada penambahan 300 kasus baru yang menjangkiti masyarakat karena homoseksual.

"Faktor risiko homoseksual masih menjadi salah satu penyumbang tertinggi infeksi baru kasus HIV/AIDS di Sumsel. Pada 2025, jumlah infeksi baru karena faktor homoseksual ini tercatat 344 orang " jelas dia.

2. Faktor lain penularan HIV/AIDS

Ilustrasi HIV AIDS (Dok. IDN Times)

Selain faktor seks berisiko, pihaknya pun mencatat penggunaan jarum suntik alat dengan tidak steril, perinatal, dan transfusi darah/cangkok organ turut menjadi faktor risiko penularan kasus HIV/AIDS.

"Untuk kasus perinatal 11 orang, pengguna jarum/alat tidak steril 3 orang, dan transfusi darah/cangkok organ/produk darah 1 orang," jelas dia.

3. Akui masih ada stigma ke masyarakat

Ilustrasi HIV AIDS (Dok. Kemenkes)

Ira menyebut, saat ini pihaknya masih fokus dalam proses sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait HIV/AIDS. Hingga saat ini, masyarakat belum sepenuhnya sadar dan mau memeriksakan diri ke faskes karena terhalang stigma dan diskriminasi.

"Pentingnya edukasi dan sosialisasi bahaya seks bebas dan HIV/AIDS kepada masyarakat, terutama kepada para pelajar di tingkat SMA, terus kita lakukan. Kemudian juga ada layanan konseling, tes dan pengobatan HIV di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas," jelas dia.

Editorial Team