Palembang, IDN Times - Eskalasi konflik geopolitik global dinilai berpotensi memberi tekanan ganda terhadap perekonomian Indonesia, khususnya melalui jalur energi dan sektor keuangan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17 ribu per dolar AS serta lonjakan harga pangan menjadi sinyal kewaspadaan bagi pemerintah pusat maupun Sumsel.
"Konflik geopolitik sering menjadi katalis lonjakan harga energi dan pangan. Harga minyak mentah Brent sempat berada di atas USD 72 per barel awal tahun ini dan berpotensi melonjak ke kisaran 100 hingga 120 dolar AS apabila terjadi gangguan di Selat Hormuz," ungkap Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri) Abdul Bashir kepada IDN Times, Rabu (4/3/2026).
