Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Nasib Harga TBS Sawit Sumsel Tak Bisa Bersaing, Meski Dolar AS Menguat
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (pexels.com/Pok Rie)
  • Harga TBS sawit Sumsel turun pada periode kedua Mei 2026 karena pelemahan harga CPO dunia dan menurunnya permintaan ekspor.
  • Penguatan dolar AS tidak mampu mendongkrak harga TBS karena acuan harga global di bursa Malaysia dan Rotterdam sedang melemah.
  • Permintaan ekspor melambat akibat peralihan ke minyak nabati lain serta penumpukan stok CPO dalam negeri turut menekan harga sawit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatra Selatan mengalami penurunan pada periode kedua Mei 2026 meskipun nilai tukar dolar AS sedang menguat.
  • Who?
    Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah, bersama para petani sawit di wilayah tersebut menjadi pihak yang terlibat dalam perkembangan harga ini.
  • Where?
    Peristiwa ini terjadi di Provinsi Sumatra Selatan, dengan pemantauan harga dilakukan oleh Dinas Perkebunan setempat di berbagai daerah penghasil sawit.
  • When?
    Kondisi harga tercatat pada periode kedua bulan Mei 2026 dan disampaikan secara resmi pada Jumat, 22 Mei 2026.
  • Why?
    Penurunan harga dipicu oleh turunnya harga crude palm oil (CPO) dunia, melambatnya permintaan ekspor, serta peralihan beberapa negara ke minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai.
  • How?
    Harga TBS ditetapkan turun tipis dari sekitar Rp3.905 menjadi Rp3.864 per kilogram akibat tekanan pasar global dan penumpukan stok CPO di tangki timbun pelabuhan ekspor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga buah sawit di Sumatra Selatan sekarang turun, padahal uang dolar Amerika naik. Pak Ichwansyah bilang harga sawit ikut harga dunia yang lagi turun di Malaysia dan Rotterdam. Permintaan dari luar negeri juga berkurang karena banyak negara pakai minyak lain. Di gudang juga stoknya masih banyak, jadi harganya belum bisa naik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit asal Sumatra Selatan masih tak mampu bersaing, meski nilai dolar AS kini terus menguat. Harga TBS kelapa sawit tidak terdongkrak oleh berbagai faktor.

"Sederhananya, dolar memang memengaruhi harga TBS, tapi bukan satu-satunya faktor. Harga ini acuannya dunia. Saat ini dipengaruhi bursa Malaysia dan Rotterdam yang sedang turun," ujar Plt Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah, dikutip, Jumat (22/5/2026).

1. Harga TBS turun lebih banyak pada periode kedua Mei 2026

Ilustrasi pohon kelapa sawit saat cuaca hujan (pexels.com/Annisa Rosalina)

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Perkebunan Sumsel, pada periode kedua bulan Mei 2026, harga sawit mengalami penurunan tipis akibat melemahnya harga crude palm oil (CPO) dunia dan melambatnya permintaan ekspor.

Terpantau harga TBS tertinggi untuk usia tanam 22 tahun kini berada di angka Rp3.868,17 per kilogram (kg), turun dibandingkan periode I Mei 2026 yang mencapai Rp3.905,44 per kg.

2. Harga TBS tak mampu menguat karena nilai jual CPO menurun

ilustrasi kebun kelapa sawit (pexels.com/Tom Fisk)

Kemudian, penurunan harga juga terjadi pada kelompok usia produktif 10-20 tahun. Pada periode kedua Mei 2026, harga TBS ditetapkan Rp3.864,31 per kg, lebih rendah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp3.898,14 per kg.

Sementara harga TBS usia 21 tahun berada di level Rp3.855,35 per kg dan usia 23 tahun sebesar Rp3.841,52 per kg. Secara umum, penurunan harga TBS dipengaruhi oleh turunnya harga CPO di pasar internasional.

"Jadi meskipun dolar AS sedang menguat, TBS belum bisa naik (harga) signifikan," jelasnya.

3. Peralihan penggunaan minyak nabati memengaruhi harga TBS

Ilustrasi buah kelapa sawit (pixabay.com/tristantan)

Menurut Ichwansyah, perlambatan permintaan ekspor dari sejumlah negara tujuan utama seperti Tiongkok dan Eropa juga turut memberi tekanan terhadap harga sawit. Bahkan, beberapa negara mulai beralih menggunakan minyak nabati alternatif yang dinilai lebih murah, seperti minyak kedelai.

“Permintaan global sedang melambat. Jadi walaupun dolar menguat, dampaknya ke harga TBS tidak terlalu terasa karena harga CPO dunia justru turun,” kata dia.

4. Ketersediaan stok TBS kelapa sawit juga memengaruhi harga

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (pexels.com/Pok Rie)

Selain faktor ekspor, kondisi stok dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan harga sawit dalam jangka pendek. Penumpukan stok CPO di tangki timbun pelabuhan ekspor disebut menjadi salah satu penyebab harga belum menguat.

Lebih lanjut, Ichwansyah menilai kondisi petani sawit di Sumsel masih cukup baik. Hal itu terlihat dari kenaikan indeks K yang kini mencapai 93,29 persen, naik dibandingkan sebelumnya sekitar 92 persen.

“Yang paling penting untuk sawit sebenarnya indeks K. Sekarang sudah 93 persen, artinya porsi harga yang diterima petani meningkat walaupun harga TBS turun tipis,” jelas dia.

Editorial Team