Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi lampion khas imlek
Ilustrasi lampion khas imlek (pexels.com/Nanping Thongpanja)

Intinya sih...

  • Imlek 2026 di Palembang menjadi momen spesial bagi masyarakat Tionghoa, karena melambangkan keberuntungan dari warna merah dan kesan spesial dari Shio Kuda Api.

  • Simbol Imlek memiliki filosofi mendalam, dengan ornamen merah yang menandakan keberuntungan dan kebahagiaan, serta lampion merah sebagai lambang harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

  • Tradisi angpao sebagai simbol transfer energi positif dan rezeki mengalami pergeseran di era digital, dengan banyak orang menggunakan teknologi dan digital untuk memberikan angpao.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Perayaan Imlek 2026 di Palembang menjadi momen yang dinanti sejumlah masyarakat keturunan Tionghoa. Selain melambangkan keberuntungan dari warna merah ciri khas Imlek, Perayaan Tahun Baru Cina ini pun memberi kesan spesial dari Shio Kuda Api.

"Tahun ini di zodiak Tionghoa, tahun 2026 dikaitkan dengan Shio Kuda Api," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan, Tjik Harun.

1. Shio Kuda Api memiliki filosofi mendalam

Ilustrasi lampion Imlek (Unsplash/Angeline Kusznirewicz)

Secara makna, tiap lambang, warna, dan kaitan shio ketika Imlek memiliki filosofi mendalam. Tahun 2026 lanjut Tjik Harun, merupakan perayaan Imlek spesial. Sebab Shio Kuda Api muncul setiap 60 tahun sekali.

"Simbol Imlek mempunyai arti tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun," kata dia.

Berdasarkan simbol warna, merah menandakan keberuntungan dan kebahagiaan. Ketika Imlek mengenakan pakaian serba merah, artinya menampilkan aura kuat dan daya tarik.

Sedangkan dilihat dari makna ornamen warna merah, aksesori tersebut sudah menjadi tradisi dan ikonik spesial. Tradisi ornamen merah kata Tjik Harun, berawal sejak Dinasti Han (202 SM-9 M).

3. Unsur Api Imlek 2026 melambangkan antusiasme

ilustrasi merayakan imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Kemudian, arti cahaya lampion merah merupakan lambang harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan warna ini dipercaya mengusir energi negatif sekaligus menarik keberuntungan.

"Lampion itu ada lampu, lampu simbol penerang, menerangkan jalan di tahun itu seperti harapan supaya lebih baik, lebih sukses. Terang hati kita, terang rezeki kita," jelas dia.

Dikaitkan dengan Shio Kuda Api, Imlek tahun 2026 dilambangkan sebagai kombinasi langka yang memiliki filosofi istimewa. Shio Kuda, kata Tjik Harun, melambangkan kebebasan, kemandirian, kecepatan, dan keberanian.

"Unsur Api memperkuat karakter tersebut dengan semangat antusiasme, dan dorongan untuk maju. Sekarang masuk shio kuda, ada pernak-pernik simbol kuda, menunjukkan shio tahun itu," katanya.

Selain shio, dekorasi khas Imlek tahun ini diramaikan dengan Chunlian, kuplet merah berisi doa keberuntungan yang dipasang di pintu rumah. Kata dia, Imlek 2026 merupakan Karakter Fu yang melambangkan keberuntungan, kekayaan dan kemakmuran.

3. Tradisi Angpao di Palembang mulai mengalami pergeseran

ilustrasi dekorasi Imlek (pexels.com/Suki Lee)

Bukan hanya ornamen, Imlek 2026 ditandai dengan tradisi angpao. Angpao, amplop merah, adalah bagian tak terpisahkan dari perayaan tahun baru penanggalan masyarakat keturunan Tionghoa ini. Maknanya, Ang berarti merah dan Pao berarti amplop dalam bahasa Hokkian.

"Di balik angpao itu ada doa. Misalnya, aku kasih anak-anak, semoga cepat sekolah, semoga pintar, karena ada doanya. Jadi bukan dilihat dari isi angpaonya," ujar Tjik Harun.

Dia menjelaskan, tradisi angpao adalah simbol transfer energi positif dan rezeki dari mereka yang sudah menikah (dianggap mampu) kepada anak-anak atau yang belum menikah.

Lebih lanjut, katanya, meski tradisi ini masih kuat, tradisi Angpao mengalami pergeseran di era digital. Sekarang, ungkapnya, Angpao sudah tak banyak diberikan berupa amplop. Melainkan sudah bisa dilakukan dengan teknologi dan digital.

"Sudah era digital, terlalu banyak yang pakai rekening, m-banking. Tradisi sudah bergeser karena era digitalisasi," ujarnya.

Editorial Team