Kucing-kucingan dengan Petugas, Begini Pola Karhutla di Sumsel

Dalkarhut Sumsel menemukan pola karhutla berbeda: pembakaran di Ogan Ilir diduga dilakukan pada waktu tertentu untuk menghindari petugas, sedangkan Muara Enim terkait pembersihan lahan perluasan kebun.
Di Pedamaran, OKI, kamera udara menemukan lahan rata dan siap tanam setelah terbakar di dekat kebun sawit yang utuh; penyebab serta pihak bertanggung jawab masih diperiksa.
Asap menuju Palembang masih dominan berasal dari Cengal, OKI. Manggala Agni menggeser personel ke Gelumbang dan Timbangan guna memperkuat pemadaman di tengah cuaca serta lahan kering.
Palembang, IDN Times - Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra menemukan pola berbeda dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel). Ada pembakaran yang dilakukan dengan kucing-kucingan untuk menghindari petugas, sementara di wilayah lain api diduga digunakan untuk membersihkan lahan demi perluasan perkebunan.
"Kalau di OI, banyak yang pola waktu membakar kucing-kucingan dengan petugas. Muara Enim, modelnya bersihkan lahan untuk perluasan kebun. Bahkan di Pedamaran kemarin ada yang sudah stackingan (pembersihan dengan alat berat)," ungkap Kepala Dalkarhut Sumsel, Ferdian Krisnanto, Selasa (13/10/2026).
1. Pembakaran di Ogan Ilir diduga dilakukan pada waktu tertentu

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (tengah) berbincang dengan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto (kanan) saat meninjau lokasi kebakaran hutan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) Di Kabupaten Ogan Ilir, petugas menghadapi pola pembakaran yang diduga dilakukan dengan mempertimbangkan waktu. Cara tersebut membuat petugas harus menghadapi tantangan untuk mendeteksi aktivitas pembakaran di lapangan.
Berbeda dengan Ogan Ilir, pola karhutla di Muara Enim diduga berkaitan dengan aktivitas pembersihan lahan untuk memperluas perkebunan.
Pembakaran lahan berisiko memicu kebakaran yang lebih luas apabila api tidak terkendali. Terlebih, material kering di sekitar lokasi dapat menjadi bahan bakar yang mempercepat penjalaran api.
"Model-model begitu yang akhirnya merembet ke mana-mana karena kondisi angin kuat dan bahan bakaran potensial semua," ujarnya.
2. Lahan di Pedamaran ditemukan rata setelah terbakar

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto (IDN Times/Rangga Erfizal) Temuan berbeda muncul di Kecamatan Pedamaran, OKI. Melalui kamera udara, petugas Manggala Agni mendapati lahan yang sudah rata dan siap ditanami setelah terbakar.
Lokasi tersebut berada di samping perkebunan sawit yang tidak ikut terbakar. Kondisi ini menjadi salah satu temuan yang diperhatikan petugas dalam memantau pola karhutla di wilayah tersebut.
Meski demikian, kondisi lahan yang sudah rata setelah terbakar belum cukup untuk memastikan adanya pembakaran yang disengaja demi membuka atau memperluas perkebunan. Dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab.
3. Asap dari Cengal masih mengarah ke Palembang

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Di tengah penanganan karhutla di sejumlah daerah, dampak asap masih dirasakan warga Palembang. Ferdian menyebut, asap yang mengarah ke ibu kota Sumsel tersebut masih dominan berasal dari kawasan Cengal, Kabupaten OKI.
"Arah asap yang ke Palembang dominan masih dari Cengal (Kabupaten OKI)," jelasnya.
Manggala Agni juga mengerahkan kembali personel untuk memperkuat penanganan di wilayah lain. Personel dari Sarolangun dikerahkan ke Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, untuk membantu penanganan oleh Daops Lahat.
Sementara itu, personel dari Siak digeser ke kawasan Timbangan, Ogan Ilir, yang ditangani Daops Banyuasin. "Perpindahan personel tersebut dilakukan untuk memperkuat pemadaman di sejumlah daerah yang masih mengalami karhutla, di tengah kondisi cuaca dan lahan kering yang membuat api mudah menyebar,"jelasnya.


















