Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Industri Otomotif Dorong Harga Karet Sumsel Tembus Rp38 Ribu Per Kg
ilustrasi perkebunan karet (pixabay.com/Abhilash Jacob)
  • Harga karet KKK 100 persen naik konsisten selama lima hari hingga mencapai Rp38.454 per kilogram, didorong oleh meningkatnya permintaan industri otomotif global terutama dari China dan India.

  • Tingginya harga minyak mentah dunia membuat karet sintetis lebih mahal, menjadikan karet alam semakin kompetitif dan turut memperkuat tren kenaikan harga di pasar internasional.

  • Produksi karet di negara produsen utama masih terganggu cuaca dan dampak El Nino, menyebabkan pasokan global ketat serta mendorong pembeli berani membayar harga lebih tinggi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Harga karet KKK 100 persen mengalami kenaikan konsisten selama lima hari bursa pada periode 4–8 Mei 2026. Berdasarkan rekap Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) Sumsel, harga karet naik dari Rp37.141 per kilogram menjadi Rp38.454 per kilogram.

Kenaikan harga karet dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah penguatan industri otomotif global. Harga terbaru naik sebesar Rp1.313 per kilogram, sekaligus membuat harga karet menembus level Rp38 ribu per kilogram.

"Permintaan global masih lebih tinggi dibanding produksi. Industri otomotif terutama di China dan India mulai pulih sehingga kebutuhan bahan baku ban meningkat," ungkap Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumsel, Rudi Arpian, Senin (11/5/2026).

1. Harga minyak naik pengaruhi harga karet alam

Ilustrasi pohon karet di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Tak hanya didorong oleh kebangkitan industri otomotif global, Rudi menyebut tingginya harga minyak mentah dunia juga membuat harga karet sintetis ikut naik sehingga karet alam menjadi lebih kompetitif di pasar global.

"Harga minyak mentah yang masih tinggi membuat harga karet sintetis naik hingga 13.783 yuan per ton pada Maret 2026. Kondisi itu ikut mendorong kenaikan harga karet alam," jelasnya.

2. Pemicu kenaikan harga karet alam

ilustrasi mengekstrasi getah dari pohon karet (vecteezy.com/Muhammad Gunawansyah)

Di sisi lain, sentimen implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) dan pembatasan ekspor negara produsen karet juga memicu aksi pembelian stok oleh industri.

APKARINDO Sumsel menilai tren penguatan harga masih berpeluang berlanjut selama produksi global belum pulih dan permintaan industri otomotif tetap tinggi.

"Selama permintaan otomotif tetap solid, tren penguatan berpeluang lanjut. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap koreksi jika stok industri kembali menumpuk atau harga minyak terkoreksi," jelasnya.

3. Musim hujan dan El Nino dapat pengaruhi harga karet

ilustrasi hutan pohon karet (pexels.com/M. Noor TM)

Rudi menambahkan bahwa produksi karet di negara produsen utama seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia masih terganggu oleh cuaca. Curah hujan tinggi membuat aktivitas penyadapan getah belum berjalan maksimal.

Menurutnya, dampak El Nino 2024–2025 juga masih memengaruhi produktivitas kebun sehingga pasokan global belum sepenuhnya pulih.

"Pasokan saat ini masih cukup ketat. Itu membuat buyer berani mengambil posisi dengan harga lebih tinggi," jelasnya.

Editorial Team