Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hadapi Anomali Cuaca, Sumsel Tetap Waspada Potensi Karhutla
Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Gubernur Sumsel Herman Deru mengingatkan potensi anomali cuaca yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan, karena pola musim hujan dan kemarau kini sulit diprediksi.
  • Deru menyoroti ancaman El Nino yang dapat memperparah risiko karhutla seperti kejadian kabut asap sebelumnya, serta meminta kewaspadaan agar hal itu tidak terulang.
  • Ia juga menilai teknologi konstruksi modern dengan material alternatif seperti baja ringan dan aluminium membantu mengurangi ketergantungan pada kayu, sehingga turut menjaga kelestarian hutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan potensi anomali cuaca dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumsel. Menurutnya, pola perubahan iklim saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu, di mana musim hujan dan kemarau tak lagi dapat diperkirakan dengan jelas.

"Sekarang iklim sudah anomali. Sudah hampir Juni, masih hujan. Hal ini harus menjadi perhatian bersama," ungkap Herman Deru, Senin (22/5/2026).

1. Karhutla dapat menjadi sorotan negara lain

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Jejawi OKI (Dok: Manggala Agni)

Deru menjelaskan bahwa kondisi anomali cuaca yang terjadi harus diwaspadai mengingat potensi El Niño yang dapat terjadi pada tahun ini. Berdasarkan pengalaman menghadapi El Niño, beberapa kejadian karhutla sempat menyebabkan kabut asap hingga ke negara lain.

"Kita pernah mengalami masa ketika asap menjadi sorotan negara lain. Jangan sampai itu terulang lagi," jelasnya.

2. Ada perubahan kondisi hutan di Sumsel

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Jejawi OKI (Dok: Manggala Agni)

Herman Deru menilai sebagian besar karhutla dipicu kelalaian manusia saat membuka lahan maupun beraktivitas di kawasan hutan. Karena itu, ia mengimbau masyarakat menjaga ekosistem alam, terutama lahan gambut dan hutan.

"Kalau dulu kayu-kayu seperti ini mudah ditemukan, sekarang semakin langka. Artinya ada perubahan besar pada kondisi hutan kita," jelasnya.

3. Masyarakat mulai lepas dari ketergantungan kayu

Apel penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Herman Deru menilai perkembangan teknologi konstruksi saat ini turut membantu menekan penggunaan kayu dalam pembangunan. Kehadiran material alternatif seperti baja ringan, kusen aluminium, hingga aluminium composite panel (ACP) dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap hasil hutan.

"Kalau dulu hampir semua bangunan memakai kayu, sekarang sudah banyak alternatif. Ini salah satu bentuk kemajuan teknologi yang membantu menjaga hutan," bebernya.

Editorial Team