Gubernur Sumsel Herman Deru (Dok. IDN Times)
Sementara kata Gubernur Sumsel, Herman Deru, daerah yang dipimpinnya menjadi salah satu provinsi yang minim komentar negatif soal MBG. Ia mengklaim bahwa kondisi positif itu artinya pemerintah telah berhasil membangun implementasi program di daerah.
"Keberhasilan ini tidak terlepas dari kesiapan daerah dalam menjaga ketersediaan bahan pangan. Seluruh kebutuhan bahan untuk MBG tersedia di Sumsel tanpa harus mengandalkan impor dari luar daerah maupun luar negeri," katanya.
Menurut Deru, konsistensi pemerintah daerah dalam membangun kemandirian pangan menjadi faktor penting. Sejak November 2021, Sumsel sudah mencanangkan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).
"Masyarakat diberikan bibit ayam, ikan, dan komoditas lainnya. Selain itu, masyarakat menanam kebutuhan sehari-hari seperti cabai, bawang, dan komoditas pokok lainnya," jelas dia.
Ketika program MBG masuk lanjut Deru, semua orang sibuk dan sempat khawatir harga pangan akan naik. Namun, ia mengklaim Sumsel tidak mengalami kenaikan harga komoditas karena sudah punya kemandirian pangan, sehingga suplai dan demand tetap terjaga.
Padahal pantauan IDN Times, pernyataan Herman Deru tak sejalan dengan kondisi di lapangan. Akibat program MBG, justru harga komoditas utama seperti ayam potong ras dan telur ayam cenderung tinggi.
Kata salah satu pedagang di Pasar Tradisional KM 5 Palembang, harga ayam potong ras bertahan di angka Rp38-40 ribu dan telur ayam sebesar Rp28-30 ribu dari sebelumnya di bawah Rp26 ribu. Beberapa pedagang pun mengaku, akibat MBG, harga komoditas dan pangan kosisten tinggi dan sulit berada pada kisaran harga stabil.