Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Petani karet di Sumsel saat tengah menyadap karet (IDN Times/Rangga Erfizal)
Petani karet di Sumsel saat tengah menyadap karet (IDN Times/Rangga Erfizal)

Intinya sih...

  • Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel mendorong program gentengisasi terhubung dengan hilirisasi karet di Indonesia.

  • Pemanfaatan karet untuk pembuatan genteng dinilai memiliki nilai manfaat besar, menciptakan produk bangunan ramah lingkungan dan tahan lama.

  • Karet perlu melalui proses vulkanisasi atau depolimerisasi sebelum dicampur dan dicetak menjadi genteng, perlu pengembangan lebih lanjut dari pemerintah dan lembaga penelitian seperti BRIN.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel mendorong program gentingisasi terhubung dengan hilirisasi karet di Indonesia. Salah satu langkah hilirisasi karet tersebut bisa diwujudkan dengan pemanfaatan karet untuk pembuatan genteng.

"Program gentengisasi menjadi momentum untuk mendorong hilirisasi karet langsung dari kampung-kampung karet," ungkap Sekjen Apkarindo Sumsel Rudi Arpian, Sabtu (7/2/2026).

1. Genteng berbahan dasar karet diklaim lebih ramah lingkungan

Petani karet di Sumsel saat tengah menyadap karet (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menerangkan, pemanfaatan karet menjadi bahan baku membuat genteng dinilai memiliki nilai manfaat yang besar. Inovasi ini dinilai mampu menciptakan produk bangunan yang lebih ramah lingkungan dan tahan lama.

Salah satu konsep yang dikembangkan adalah genteng karet yang dibuat melalui pencampuran karet dengan bahan lain seperti pasir, semen, serta aditif tertentu. Selain itu, karet juga dapat dikombinasikan dengan material lain seperti serat kelapa, serat bambu, atau plastik untuk menghasilkan genteng komposit yang lebih kuat dan tahan lama.

"Karet dapat diolah menjadi genteng yang fleksibel dan tahan cuaca melalui proses pencampuran dengan bahan lain seperti pasir, semen, dan aditif," jelas dia.

2. Genteng karet dianggap cocok untuk iklim dan kondisi wilayah rawan gempa

Petani karet di Sumsel saat tengah menyadap karet (IDN Times/Rangga Erfizal)

Pengembangan juga dilakukan pada genteng aspal karet yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap cuaca. Jenis genteng ini dinilai cocok dengan kondisi iklim di Indonesia.

Genteng aspal karet dibuat dari campuran karet dan semen, dinilai memiliki bobot lebih ringan dan ketahanan yang baik terhadap gempa. "Karet yang dicampur dengan semen dapat menghasilkan genteng yang lebih ringan dan memiliki ketahanan yang lebih baik," jelasnya.

3. Dorong BRIN lakukan penelitian

Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Dari sisi teknis, karet perlu melalui proses awal seperti vulkanisasi atau depolimerisasi guna meningkatkan kekuatan dan ketahanannya. Setelah itu, karet dicampur sesuai formula, dicetak ke dalam bentuk genteng, lalu dibiarkan mengering dan mengeras sebelum digunakan.

"Karet harus diolah terlebih dahulu melalui proses vulkanisasi atau depolimerisasi sebelum dicampur dan dicetak menjadi genteng," jelas dia.

Dirinya berharap, ada upaya dari pemerintah dan lembagai penelitian seperti BRIN untuk melirik dan meneliti pengggunaan karet untuk bahan baku pembuatan genteng.

"Untuk terwujudnya genteng karet perlu pengembangan lebih lanjut. Kita harap para penerliti BRIN dapat muwujudkannya," jelas dia.

Editorial Team