Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Api Tak Terlihat, Karhutla di Lahan Gambut Kenapa Sulit Dipadamkan?
Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Kebakaran gambut kering dapat membara di bawah permukaan tanpa nyala jelas, sehingga sulit dideteksi dan berpotensi memicu api kembali di permukaan.

  • Pemadaman terkendala bara tersembunyi, keterbatasan air saat kemarau, serta akses lokasi terpencil; water bombing belum tentu menjangkau seluruh lapisan gambut.

  • Pencegahan difokuskan pada menjaga gambut tetap basah melalui tata air, pemantauan, pengawasan, deteksi dini, patroli, dan respons cepat terhadap indikasi kebakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Meski api sudah tidak tampak, bara masih bisa bertahan di bawah tanah dan berpotensi memicu kebakaran kembali.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, menjelaskan kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Pada kondisi tertentu, api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi secara visual.

"Pada kebakaran vegetasi, api umumnya terlihat membakar bahan bakar di permukaan. Sementara itu, pada lahan gambut yang kering, pembakaran dapat berlangsung di bawah permukaan melalui proses smouldering combustion, yaitu pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas," jelas Daryono, Rabu (13/10/2026).

1. Gambut kering lebih rentan terbakar

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Daryono menjelaskan, gambut dalam kondisi alami yang basah relatif sulit terbakar. Namun, ketika mengalami kekeringan, gangguan tata air, atau penurunan muka air tanah, lahan gambut menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika kekeringan berlangsung dalam waktu lama. Kelembapan tanah dan vegetasi yang menurun membuat bahan organik lebih mudah terbakar apabila terkena sumber api.

"Akibatnya kebakaran di lahan gambut ini sulit dipadamkan. Bara api dapat tetap bertahan dilapisan gambut dan berpotensi kembali memicu kebakaran di wilayah permukaan," ujar dia.

2. Bara tersembunyi membuat pemadaman lebih sulit

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Menurut Daryono, pemadaman kebakaran di lahan gambut menghadapi sejumlah kendala. Selain bara yang dapat bertahan di bawah permukaan, petugas juga harus menghadapi keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran.

Pada musim kemarau, ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang. Sementara itu, sejumlah kawasan gambut berada di wilayah terpencil sehingga mobilisasi personel dan peralatan pemadaman membutuhkan upaya lebih besar.

"Salah satu kendalanya karena keterbatasan sumber air. Pada puncuak musim air ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang," jelasnya.

Pemadaman dari udara juga memiliki keterbatasan. Pengeboman air atau water bombing dapat membantu mengendalikan kebakaran, tetapi belum tentu mampu menjangkau seluruh bara yang tersisa di lapisan gambut.

"Penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Pembasahan lahan, pemeriksaan berulang, serta pemantauan kondisi di lokasi diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang masih bertahan," jelas Daryono.

3. Mencegah gambut mengering untuk menekan risiko karhutla

Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera (IDN Times/Rangga Erfizal)

Daryono menekankan, pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Mempertahankan kondisi hidrologis gambut agar tetap basah dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas.

"Mencegah gambut mengering umumnya jauh lebih efektif daripada memadamkan kebakaran setelah api berkembang luas," kata dia.

Upaya tersebut perlu didukung pengelolaan tata air, pemantauan kondisi gambut, serta pengawasan di wilayah yang rawan mengalami kebakaran.

Selain itu, deteksi dini perlu diikuti respons cepat. Informasi mengenai peningkatan risiko kebakaran harus diterjemahkan menjadi langkah operasional, mulai dari patroli, pemeriksaan lapangan, hingga penanganan awal ketika ditemukan indikasi kebakaran.

Dengan pendekatan tersebut, pengendalian karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mengurangi kondisi yang memungkinkan kebakaran kembali terjadi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article