Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kanibalisme Antar Sektor Dinilai Ancam Masa Depan Ekologi Indonesia
Muhamad Burhanudin, Penyusun Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 Yayasan KEHATI (Dok. Pribadi/Burhanudin)
  • Burhanudin menilai kebijakan pembangunan antar sektor di Indonesia saling bertabrakan, menciptakan krisis ekologis akibat pengorbanan antara sektor hutan, air, pangan, dan energi.
  • Sumatra Barat disebut sebagai contoh nyata dampak kanibalisme antar sektor dengan bencana banjir dan longsor besar yang menimbulkan ribuan korban serta kerugian ekonomi mencapai Rp68,67 triliun.
  • IEO 2026 menegaskan solusi sudah tersedia, namun dibutuhkan keberanian pemerintah untuk mengubah pola pembangunan agar lebih terintegrasi dan mencegah krisis ekologis berulang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Padang, IDN Times - Kanibalisme antarsektor yang terjadi di Indonesia dewasa ini dinilai akan membuat krisis lingkungan semakin parah ke depannya dan bahkan sudah memasuki fase krisis ekologis.

Kanibalisme yang dimaksud adalah ketika kebijakan pembangunan antarsektor tidak lagi saling menopang, melainkan saling bertabrakan dan bahkan saling menghancurkan. Contohnya, ketika sektor hutan, air, pangan, dan energi saling mengorbankan dalam satu lingkaran krisis yang terus berulang.

“Selama ini kita melihat sektor-sektor pembangunan berjalan sendiri-sendiri. Padahal, dalam kenyataannya, mereka saling terhubung. Ketika satu sektor diperkuat dengan mengorbankan sektor lain, yang terjadi bukan pertumbuhan, tetapi akumulasi krisis,” ujar Muhamad Burhanudin, Penyusun Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 Yayasan KEHATI.

1. Lingkaran setan krisis ekologi

Alat berat melakukan nirmalisasi sungai (Foto: Humas)

Burhanudin menegaskan bahwa krisis ekologis Indonesia tidak dapat dipahami sebagai persoalan sektoral. Deforestasi yang didorong oleh ekspansi pangan dan energi, misalnya, merusak sistem hidrologi dan memperparah krisis air. Krisis air pada gilirannya mengganggu produksi pangan.

"Sementara itu, tekanan untuk meningkatkan produksi pangan dan energi kembali mendorong pembukaan hutan baru. Siklus ini terus berulang dan membentuk apa yang disebut sebagai lingkaran setan krisis ekologis," katanya.

Ia mengatakan, pendekatan pembangunan yang tidak terintegrasi telah membuat Indonesia terjebak dalam paradoks, yaitu kaya sumber daya alam, tetapi rentan terhadap bencana.

2. Sumbar jadi cerminan nyata

Keadaan di lokasi bencana banjir bandang yang terjadi di Batu Busuk Padang (IDN Times/Halbert Caniago)

Ia mentakan, Sumatra adalah salah satu cerminan nyata dari krisis tersebut termasuk Sumatra Barat yang juga menjadi korban dalam bencana yang terjadi pada akhir 2025 silam.

Rangkaian banjir dan longsor di wilayah Sumatra menyebabkan 1.204 jiwa meninggal dunia, 148 orang hilang, dan sekitar 242.000 orang mengungsi. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp68,67 triliun.

Menurutnya, Kerugian ekonomi tersebut jauh lebih besar dibanding pendapatan pajak negara dari sektor sawit yang sebesar Rp50,2 triliun pada tahun 2024 silam.

“Bencana ini tidak semata-mata dipicu oleh cuaca ekstrem, melainkan diperparah oleh degradasi hutan dan tata kelola lanskap yang buruk, terutama di kawasan hulu dan sepanjang daerah aliran sungai,” katanya.

3. Jalan keluar dari masalah

Muhamad Burhanudin, Penyusun Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 Yayasan KEHATI (Dok. Pribadi/Burhanudin)

Burhanudin mengatakan, untuk jalan keluar dari permasalahan tersebut bukan hal yang sulit. Hanya saja niat dan keinginan untuk melakukan perubahan yang dibutuhkan.

"IEO 2026 menunjukkan bahwa jalan keluar sebenarnya sudah ada. Masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada keberanian untuk mengubah cara kita membangun," katanya.

Ia berharap pemerintah ke depannya bisa mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan sebuah kebijakan agar tidak terjadi lagi kanibalisme antarsektor.

Editorial Team