Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sungai Musi Hampir Kritis karena Limbah Pupuk
Sungai Musi Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Sungai Musi terancam kritis akibat limbah dari perkebunan dan pabrik di pinggir sungai.
  • Pemerintah perlu membuat regulasi lingkungan dan masyarakat harus berpartisipasi untuk mengurangi pencemaran.
  • Dampak dari pencemaran limbah adalah kematian massal ikan, sehingga diperlukan penjernihan air agar ekosistem tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Sungai Musi sebagai perairan terpanjang di Pulau Sumatra masuk dalam kategori hampir kritis akibat banyak limbah. Limbah tersebut dominan dari perkebunan dan rata-rata berasal dari limbah pupuk.

"Dari limbah pupuk dilihat dari hulu sampai ke tengah sungai dan di hilir. Limbah berasal dari pabrik di pinggir Sungai Musi," ujar Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin) Bidang Sumber Daya Perairan dan Sungai, sekaligus pakar Sumber Daya Perairan dan Sungai Nasional, Siti Nurul Aida.

1. Pemerintah berperan mengatur regulasi pengurangan pencemaran di Sungai Musi

Jembatan Ampera Palembang (Instagram/Fariz.izen)

Kondisi Sungai Musi yang sekarang mengalami pencemaran limbah pupuk, masih bisa diupayakan agar berkurang lewat dorongan dan bantuan pemerintah dalam pembuatan regulasi.

"Tergantung dari pemerintah melaksanakan regulasi lingkungan atau tidak dan masyarakatnya juga harus berpartisipasi," kata dia.

2. Lebih baik ketimbang Sungai Bengawan Solo dan Sungai Citarum

Perairan Sungai Musi Palembang (Dok: istimewa)

Siti menyampaikan, kondisi air Sungai Musi saat ini masih lebih baik ketimbang pencemaran yang terjadi di Sungai Bengawan Solo dan Sungai Citarum. Meski limbah menumpuk di Sungai Musi, masyarakat sekitar masih bisa menjaga kebersihan lingkungan.

"Orang Palembang masih ada yang malu membuang sampah di sungai, kalau di Sungai Begawan Solo, mereka bermotor buang sampah," timpalnya.

Dampak dari pencemaran limbah di sungai yang paling sering terjadi adalah kematian massal ikan yang hidup di sana. Ekosistem pun perlahan berkurang, dan langkah agar jumlah ikan tidak kian berkurang adalah dengan penjernihan air.

3. Limbah dari perusahaan berasal dari pelanggaran kerja SOP

Jembatan Ampera Palembang (Dok. Dragonfly_drone)

Sementara menyoal perusahaan yang berada di pinggir Sungai Musi dan turut menyumbang limbah, kemungkinan perusahaan tersebut sudah melakukan pengolahan limbah sesuai SOP. Namun dalam pelaksanaan terjadi pelanggaran dan kecelakaan yang berakibat limbah makin mengalir di sungai.

“Limbah yang membuat tercemar sungai, jadk sebenarnya terjadi penyuburan dari limbah pupuk menyuburkan tumbuh enceng gondok dan ini yang membuat pencemaraan,” timpal dia.

Editorial Team