Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penjelasan Tentang Badai Sitokin yang Habiskan Biaya Ratusan Juta
ilustrasi COVID-19 dan badai sitokin (scitechdaily.com)

Palembang, IDN Times - Penderita COVID-19 memiliki kemungkinan untuk terkena badai Sitokin yang berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Ahli Mikrobiologi Universitas Sriwijaya (Unsri), Profesor Yuwono menjelaskan, Sitokin hanya menyerang 0,5 persen penderita COVID-19.

"Memang tidak banyak ditemukan. Para dokter pun belum mengetahui kenapa badai Sitokin bisa terjadi pada orang-orang tertentu," ungkap Yuwono, Senin (23/8/2021).

1. Ada perang antara virus dan Sitokin di dalam tubuh

Default Image IDN

Badai Sitokin yang baru-baru ini sempat menghebohkan, pertama kali diungkapkan artis Deddy Corbuzier. Ia mengaku hampir saja kehilangan nyawa saat berjuang melawan Sitokin. Yuwono menjelaskan, Sitokin awalnya menyerang penderita di minggu pertama terpapar virus.

Pada pase pertama ini disebut flu like syndrome, atau gejala-gejala yang menyerupai flu. Lalu di minggu kedua ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, seperti pasien masuk fase kritis dan penderita sudah sembuh.

“Itulah kenapa isolasi mandiri wajib dilakukan selama 14 hari," ujar dia.

Saat masuk fase kritis ditandai perlawanan imunitas yang begitu kuat. Perlawanan dilakukan oleh zat dalam tubuh yang dinamai Sitokin, utamanya adalah Interlukim 6 atau IL6. Pada perlawanan yang begitu tinggi, zat Sitokin berproduksi cukup banyak di dalam tubuh.

“Kondisinya tumpah ruah. Zat ini berperang melawan virus yang masuk ke dalam tubuh. Perang antara Sitokin dan virus membuat tubuh dalam keadaan tak kuat. Gejalanya seperti bisa hipertensi dan kesadaran menurun. Orang itu bisa teler atau koma. Lalu suhu badannya juga bisa menurun, agak dingin atau demam tinggi sampai 42 derajat," jelas dia.

2. Meski melawan virus, Sitokin juga merusak tubuh

ilustrasi badai sitokin (scitechdaily.com)

Yuwono menjelaskan, dampak paling berbahaya dari Badai Sitokin adalah pelemahan respon pengobatan. Sitokin yang sudah keluar dianggap bagus untuk menghalangi virus, namun memiliki efek merusak tubuh sendiri.

"Dalam Sitokin ada yang dinamakan TNF Alpha. Pada orang tertentu bisa membuat badan kurus kering, seperti orang yang menderita TBC. TNF Alpha ini bisa merusak tubuh. Kenapa disebut badai Sitokin karena keluarnya cukup banyak," jelas dia.

3. Pengobatan Sitokin memakan harga ratusan juta

Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19, Prof Yuwono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menurut Yowono, mengatasi Badai Sitokin diperlukan pengobatan yang cukup mahal. Para dokter biasanya memberikan obat antibody monokronal seperti Actemra yang sempat langka beberapa waktu lalu. Biaya obat ini mencapai Rp13 juta untuk sekali penyuntikan.

Selain itu, metode lainnya adalah terapi plasma, kemudian diberikan obat tiroid untuk meredakan badai tersebut, di samping alat bantu lain seperti ventilator.

"Orang yang terkena Badai Sitokin bisa beberapa kali suntik antibody monokronal, sehingga total biaya obatnya saja bisa mencapai Rp150-Rp160 juta," tutup dia.

Editorial Team