Sosialisasi yang dilakukan KPCDI Palembang terkait gagal ginjal dan cuci darah kepada anak muda di Palembang (Dok: KPCDI Palembang)
Meningkat drastisnya pasien cuci darah akibat gagal ginjal setiap tahunnya, membuat Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Palembang turun tangan memberikan edukasi. Banyak anak muda yang tidak aware dengan penyakitnya hingga harus menderita gagal ginjal dan melakukan cuci darah seumur hidup.
Novan menjelaskan, hipertensi dan gula darah menjadi penyebab utama tingginya kasus gagal ginjal. Kasus hipertensi yang tidak terkontrol membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berisiko terkena gagal ginjal.
"Mereka baru menyadari ketika kondisi kesehatan menurun. Ketika drop mereka baru divonis gagal ginjal. Kasus ini banyak terjadi pada anak muda di bawah 40 tahun hingga 20 tahunan," jelas dia.
Melihat banyaknya anak muda yang terkena gagal ginjal, Noval bersama rekan-rekan di KPCDI Palembang menggalakkan untuk datang ke SMK/SMA di Palembang. Mereka berharap ada kesadaran anak muda untuk waspada mengingat gagal ginjal bisa terjadi di semua usia.
"Sosialisasi terkait gagal ginjal dan cuci darah ini bukan untuk melebihi kapasitas dokter tetapi sebagai edukasi dan mengingatkan kepada anak muda untuk waspada. Selain sosialisasi di sekolah, kita juga kerap kopi darat dengan rekan-rekan di KPCDI dengan membawa pamplet dan selebaran terkait edukasi," jelas dia.
Dalam berbagi pengetahuan mengenai permasalahan gagal ginjal tak jarang ada perawat hingga dokter yang kerap membagikan informasi kepada para penyintas dan pendamping. Hal ini dibutuhkan penyintas untuk tetap semangat dalam menjalani hari-harinya usai divonis untuk melakukan cuci darah seumur hidup.
MW, ibunda MS, mengaku dirinya memiliki penyesalan dengan kondisi buah hatinya sekarang. Namun, ia memilih mencari jalan keluar ketimbang terus meratapi nasib. Ia terus memompa semangat sang putri yang kini harus rutin melakukan cuci darah dua kali seminggu. Bukan itu saja, MS juga harus membatasi jumlah makanan dan minuman yang ia konsumsi.
Beruntung, dengan segala kepahitan hidup yang harus dijalani, MS punya harapan sembuh yang tinggi. Sebisa mungkin ia ingin menjalani aktivitasnya seperti dulu lagi.
"Ingin sehat, ingin sekolah. Kangen sekolah, kangen main sama teman-teman. Ingin memotivasi teman-teman agar tidak kebanyakan makan mi instan," kata MS.
Sementara Dewi di Palembang, hanya berpikiran satu hal, yakni bertahan untuk anak-anaknya yang masih kecil. Dirinya berharap bisa membersamai mereka hingga dewasa dalam keadaan tetap sehat.
"Kalaupun ada obat yang ditanggung dan harus membayar saya juga akan membelinya. Karena saya pikir harus sehat untuk anak-anak," beber Dewi.
Jika sebelumnya Dewi merasa sudah menjalankan pola hidup sehat sebelum sakit, maka kini dirinya lebih meningkatkan pola hidup sehat tersebut. Sebagai pasien gagal ginjal dirinya juga belajar terus mengenai penyakit yang dideritanya dengan konsultasi dengan dokter atau berbagi cerita dengan pasien lain di dalam komunitas.
Seiring waktu, Dewi mulai berpikir untuk tetap sehat dan menerima keadaan. Dirinya mencoba menguatkan diri dengan selalu berpikir positif dan menjalin komunikasi dengan dokter dan perawat di rumah sakit. Selain itu, dirinya juga menjalin silahturahmi dengan kawan-kawan di Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPDCI).
"Kita tetap saling mendukung sesama penyintas di komunitas. kita berbagi pengalaman mengenai penyakit ini," jelas dia.
Dirinya pun mengingatkan anak-anak muda yang masih sehat untuk mengubah pola hidup menjadi lebih baik. Adapun mereka yang sudah sakit diminta untuk menerima setiap keadaan dengan lebih bijak.
"Untuk anak muda perhatikan makannya jangan yang instan, jangan lupa minum air putih. Banyak sekarang kasus yang muda-muda cuci darah karena kurang minum air putih dan minum-minuman manis," jelas dia.
Tim Penulis: Rangga Erfizal dan Feny Maulia Agustin (Sumsel), Tama Wiguna (Lampung), Rizal Adhi Pratama dan Erza Angelia Putri (Jatim), Muhammad Nasir (NTB), Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)