Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ornamen tanjak di gerbang masuk Bandara Internasional SMB II Palembang
Ornamen tanjak di gerbang masuk Bandara Internasional SMB II Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Palembang, kota yang dahulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, kini mencoba merekonstruksi identitasnya melalui pendekatan visual dan ruang. Penerapan ornamen tanjak bukan hanya strategi pelestarian budaya, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat narasi visual kota, bahwa ruang publik bisa menjadi cerminan nilai, Sejarah dan martabat lokal.

Tanjak di era ini bukan lagi benda yang dikenakan di kepala para raja, tapi kini "bersemayam" di atap-atap gedung sebagai simbol kebesaran yang bersifat inklusif, bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa perlu mengenakannya.

Arsitektur Sebagai Alat Diplomasi Budaya 

Ornamen tanjak di gerbang masuk Rumah Dinas Gubernur Sumsel atau Griya Agung, Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Kota modern kerap kehilangan arah identitas karena dominasi arsitektur global yang seragam. Kehadiran ornamen tanjak dalam desain gedung menjadi penanda bahwa Palembang memilih jalannya sendiri: membangun kota tanpa melepaskan akar budaya.

Hal ini sekaligus menjadi bentuk diplomasi budaya, cara memperkenalkan nilai lokal tanpa harus mengatakannya. Ketika wisatawan melintasi jalan protokol dan menyaksikan gapura, halte, hingga rumah sakit berhiaskan tanjak, mereka disapa oleh narasi budaya yang hidup di tiap sudut kota.

Kesadaran Estetik Baru untuk Generasi Muda

Ornamen tanjak di gerbang masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Menariknya, implementasi Pergub ini juga memantik minat generasi muda terhadap sejarah kotanya sendiri. SMA Negeri Plus 17 Palembang, sebagai salah satu sekolah yang telah menerapkan ornamen tanjak di gerbang sekolahnya, menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa dimulai dari lingkungan visual.

Pelajar yang melewati gerbang dengan tanjak bukan hanya disambut oleh simbol, tetapi oleh identitas yang hidup dan berkembang. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang dilakukan tanpa kata-kata.

Ke depan, semestinya regulasi ini tidak berhenti hanya pada bangunan formal atau milik negara. Pemerintah bisa mendorong program insentif bagi pengembang swasta atau pemilik rumah yang ingin mengadopsi ornamen tanjak secara kreatif dalam desain hunian, kafe, hotel, hingga pusat perbelanjaan.

Lebih dari itu, sekolah arsitektur di Sumatera Selatan pun bisa menjadikan 'arsitektur berornamen tanjak' sebagai kurikulum lokal unggulan. Ini akan mencetak arsitek-arsitek masa depan yang punya sensitivitas budaya tinggi.

Tanjak, Estetika yang Mengakar

Pengamat Perkotaan / Dosen Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki (Dok Pribadi)

Tanjak di gedung bukan hanya ornamen estetika. Ia adalah wujud arsitektur yang berbicara: tentang asal-usul, tentang nilai-nilai yang ingin dirawat dan tentang masa depan kota yang dibangun dari warisan budaya yang berharga.

Palembang sedang memberi contoh bahwa membangun tidak selalu harus meninggalkan akar. Justru dari akar itulah, kota bisa tumbuh menjulang dengan tanjak sebagai simbolnya.

Opini oleh:

Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki, S.T., M.P.W.K., IAI., HDII.

Pengamat Perkotaan/Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang

Editorial Team