Palembang, kota yang dahulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, kini mencoba merekonstruksi identitasnya melalui pendekatan visual dan ruang. Penerapan ornamen tanjak bukan hanya strategi pelestarian budaya, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat narasi visual kota, bahwa ruang publik bisa menjadi cerminan nilai, Sejarah dan martabat lokal.
Tanjak di era ini bukan lagi benda yang dikenakan di kepala para raja, tapi kini "bersemayam" di atap-atap gedung sebagai simbol kebesaran yang bersifat inklusif, bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa perlu mengenakannya.
