Pengamat Perkotaan / Dosen Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki (Dok Pribadi)
Banyak kota besar di dunia, seperti Kyoto, Fez, atau Yogyakarta menjadi magnet wisata dan budaya karena berhasil mempertahankan warisan lokal dalam pembangunan kotanya. Palembang memiliki potensi serupa.
Dengan regulasi yang konsisten dan pendekatan yang holistik, tanjak bisa menjadi “penanda tempat” (place marker) yang tidak dimiliki kota lain. Inisiatif ini bukan hanya urusan estetika, tapi strategi jangka panjang untuk menjadikan Palembang sebagai kota yang berkembang tanpa kehilangan arah.
Di masa depan, kota-kota besar akan bersaing bukan hanya dalam kecepatan dan teknologi, tapi dalam keunikan dan karakter. Palembang telah memulai langkah penting dengan tanjak sebagai simpul visual budaya.
Kini saatnya memperkuat langkah ini: dari kebijakan ke partisipasi, dari desain ke kesadaran, dari ornamen ke narasi. Dan pada akhirnya, tanjak tak hanya berdiri di atas bangunan, tapi tumbuh dalam kesadaran kolektif warganya.
Opini oleh:
Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki, S.T., M.P.W.K., IAI., HDII.
Pengamat Perkotaan/Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang