Comscore Tracker

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan Literasi

Pegiat literasi di daerah pun seakan tak mengenal lelah

Palembang, IDN Times - Membaca merupakan kemampuan awal yang dilewati setiap anak dalam proses mengasah keterampilan. Membaca biasa didapatkan oleh anak sebelum Taman Kanak-kanak, yaitu sekitar 4-6 tahun.

Anak-anak yang memperoleh keterampilan membaca akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan setelahnya ketika ia memulai kehidupan atau belajar mandiri. Sebab membaca merupakan kunci dasar pengetahuan, karena tidak ada pengetahuan tanpa membaca, dan tidak akan ada penemuan atau inovasi tanpa melakukannya.

Namun anak-anak di zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya memainkan gadget mereka, entah itu nonton YouTube atau bermain gim. Kesempatan untuk membaca sebuah buku terkadang hanya dilakukan mereka saat di sekolah. Apalagi tak sedikit orangtua menjadikan gadget sebagat obat untuk mendiamkan anak-anak mereka.

UNESCO dalam situs Kominfo menyebutkan, Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data yang sama, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, menyebutkan Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Sedangkan survei The Digital Reader menunjukkan hal yang berbeda. Persentase minat baca masyarakat Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada 2019, persentase minat baca di Indonesia mencapai 53,84 persen. Lalu hasil kajian kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2020 yang dilakukan Perpustakaan Nasional, menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia mencapai skor 54,17, atau lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya dan termasuk ke kategori sedang.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Entah itu pemerintah, individu, atau golongan masyarakat tertentu. Masih banyak pegiat literasi di daerah yang terus memperkenalkan baca dan tulis sejak dini. Mereka membuat perpustakaan keliling atau tempat khusus di ruang publik.

Baca Juga: Aplikasi DiarySumsel Sedia 800 Ribu Buku; Ada Kategori Anak dan Novel

1. Membuat aplikasi dan perpustakaan digital

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiIlustrasi perpustakaan (IDN Times/Reza Iqbal)

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel) masih berupaya meningkatkan minat membaca buku masyarakat, terutama pada perkembangan literasi anak di saat kemajuan digitalisasi dan teknologi.

Mereka pun membuat sebuah aplikasi yang bisa dipasang di gadget setiap orang. Lewat aplikasi bernama DiarySumsel itu, Pemprov Sumsel berharap minat membaca anak-anak di tingkat sekolah mulai tumbuh dar berkembang.

"Digitalisasi memang memengaruhi minat baca buku. Kita menyesuaikan kondisi supaya tidak ketinggalan. Sudah ada aplikasi DiarySumsel seperti e-book atau buku elektronik," ujar Kepala Bidang Layanan Otomasi dan Kerjasama Perpustakaan Daerah Sumatra Selatan (Pusda Sumsel), Khoiriyyah kepada IDN Times, Jumat (1/4/2022).

Bacaan yang bisa diunduh dari aplikasi DiarySumsel itu sama dengan jumlah akumulatif buku yang tersedia di Pusda Sumsel, yakni mencapai sekitar 800 ribu buah dengan bermacam koleksi berdasarkan kategori semua umur. Mulai dari usia anak-anak, remaja, hingga buku keilmuwan mahasiswa.

Pesatnya perkembangan teknologi juga menjadi tantangan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya kepada anak-anak.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Julmansyah, mengatakan digitalisasi menjadi sebuah keharusan. Pihaknya pun melakukan transformasi layanan perpustakaan, dari layanan yang bersifat konvensional ke perpustakaan digital. Pada 2021 lalu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB meluncurkan perpustakaan digital bernama NTB Electronic Library (NTB e-Lib).

"Dengan kemajuan teknologi ini makanya kami bertransformasi. Digitalisasi sesuatu yang tidak bisa ditolak. Makanya kita sudah punya NTB e-Lib atau perpustakaan digital. Ini salah satu upaya meningkatkan literasi pada anak-anak," kata Julmansyah, Sabtu (2/4/2022).

Belum genap setahun sejak diluncurkan Juli 2021, perpustakaan digital NTB e-Lib telah memiliki 600 anggota. Perpustakaan digital NTB e-Lib dapat diunduh di Google Playstore. Koleksi buku-buku bacaan di NTB e-Lib sebanyak 10.000 kopi. Termasuk di dalamnya buku-buku bacaan untuk anak-anak.

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiKartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan Literasi. (Aditya Pratama/ IDN Times)

Persoalan kurangnya buku bacaan menjadi salah satu tantangan untuk meningkatkan minat baca. Rasio jumlah buku dengan pembaca 1:90. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang.

Selain itu, buku-buku di perpustakaan sekolah kebanyakan tentang mata pelajaran. Begitu juga di perpustakaan daerah, bukunya banyak yang jadul. Untuk meningkatkan minat baca, sekarang sedang diperbanyak buku-buku tentang pengetahuan sains aplikatif.

Selain itu, upaya yang dilakukan menarik kunjungan ke perpustakaan adalah menyediakan tempat atau gedung perpustakaan yang representatif. Sehingga perpustakaan menjadi menarik, nyaman, elegan dan tidak membosankan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Klungkung, I Komang Wisnuadi, mengaku terus berupaya untuk menumbuhkan minat baca anak-anak. Kunjungan anak-anak ke perpustakaan bisa menjadi salah satu indikator untuk menilai, apakah saat ini anak-anak masih gemar membaca buku atau tidak. 

Namun minimnya jumlah kunjungan tak melulu karena rendahnya minat anak-anak untuk membaca buku. Ada juga karena pandemik atau pembatasan pembelajaran tatap muka. Belajar daring membuat anak-anak lebih akrab dengan gadget ketimbang buku. Berbagai kegiatan yang awalnya ditujukan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak, juga tidak bisa terlaksana karena pandemik.

Komang Wisnuadi menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menumbuhkan budaya membaca buku pada anak-anak. Misalnya dari lingkungan sekolah, perlu digiatkan Program Nasional Gerakan Literasi Sekolah.

"Sederhana saja. Misalnya siswa dengan rutin diminta membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan sekolah rutin melaksanakan lomba literasi," jelasnya.

Langkah lainnya mengembangkan layanan perpustakaan daerah, desa, dan sekolah sesuai standar nasional serta meningkatkan akses bahan bacaan, khususnya untuk bahan bacaan cetak.

"Jadi layanan perpustakaan juga harus sampai ke pelosok desa. Baik dengan perpustakaan keliling atau memaksimalkan keberadaan perpustakaan desa," jelasnya.

Baca Juga: Hadiah Kecil Penghantar Ilmu untuk Anak-Anak Nelayan Balikpapan

2. Ubah kolong jembatan, kebun karet, dan pesisir pantai sebagai taman baca

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiTBM Kolong Ciputat (Dok. TBM Kolong)

Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong menjadi pusat belajar dan perpustakaan kecil yang berlokasi di kolong jalan layang wilayah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Meski tempatnya kurang representatif di TBM Kolong ini, namun beragam buku bacaan secara gratis dan terbuka untuk umum disuguhkan.

Salah satu pengelola TBM Kolong, Victoria, menceritakan awal berdirinya tempat itu dimulai pada 2016 lalu. Kala itu, ada keinginan para anak muda yang berasal dari beberapa komunitas untuk melakukan penghijauan kolong jembatan layang.

"Kemudian setelah banyak komunitas yang masuk, akhirnya inisiasi dibangunnya TBM dilakukan oleh FISIP Mengajar. FISIP Mengajar ini salah satu unit kegiatan mahasiswa di UIN Jakarta, yang punya program mengajar dan literasi, FISIP mengajar dan OI Tangsel bergabung terbentuklah TBM Kolong," kata Victoria kepada IDN Times, beberapa waktu lalu.

Anak-anak bisa membaca buku secara gratis di sana dan tempat pun sudah di-setting sedemikian rupa nyamannya. Selain menyediakan buku bacaan gratis, pengelola dan relawan di TBM Kolong juga memberikan materi-materi pembelajaran terhadap anak didik mereka yang jumlahnya ratusan.

"Untuk anak didiknya sekitar 150 anak. Untuk pengurus, pengajar, dan relawan, sekitar 50 orang," kata dia.

Peserta rutin dari TBM Kolong merupakan anak-anak para pedagang pasar yang berjualan di Pasar Ciputat, salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Tangsel. Sebelum ada TBM, jalan layang yang berada di Ciputat dipenuhi oleh sampah dan menjadi tempat nongkrong preman pasar. 

Namun seiring berjalan waktu, preman dan sopir angkot yang biasa menempati lokasi itu akhirnya merestui perpustakaan. Aura kumuh itu kemudian berangsur hilang setelah ada taman bacaan. Apalagi para seniman lukis kemudian ikut menumbangkan karya mereka dengan membuat mural di dinding dan pilar-pilar jalan layang itu.

Kondisi tak jauh berbeda juga terada di sebuah rumah di Dusun Slamet RT 01 RW 08, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jateng). Anak-anak datang untuk mengikuti kegiatan klub baca yang diadakan Pondok Buku Ajar.

Heri Chandra Santoso, sang pemandu dari kegiatan membaca secara berkelompok tersebut. Anak-anak usia SD itu kemudian dibawa ke sebuah kebun karet yang tak jauh dari Pondok Buku Ajar. Mereka membawa sejumlah buku yang ditaruh pada wakul, lalu menggelar tikar dan mengambil sebuah buku berjudul 'Metamorfosa Samsa' karya Franz Kafka.

‘’Adik-adik hari ini kita mau membaca buku Metamorfosa Samsa karya Franz Kafka ini ya? Saya sudah membuat salinannya untuk adik-adik. Nanti secara giliran kita baca buku ini ya?’’ tuturnya saat ditemui IDN Times, Sabtu (2/4/2022).

Lelaki berusia 38 tahun itu merupakan pegiat literasi dari Lereng Medini, sebuah kawasan pegunungan di Boja. Ikhtiar itu sudah dilakukan Heri sejak 2008. Ia mendirikan Komunitas Lereng Medini untuk memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan pelajar untuk mengakses bacaan, belajar sastra, serta budaya. Ia juga menggerakkan Wakul Pustaka dan menyelenggarakan kegiatan reading group atau klub baca pada anak-anak.

‘’Jadi melalui klub baca yang kami namai Anak-Anak Gregor Samsa ini kami mulai berkenalan, bermain-main dengan buku-buku dan teks yang ada. Selama membaca kalau ada yang belum paham yang sudah paham bisa menjelaskan, kalau sama-sama belum paham ya kami berdiskusi,’’ katanya.

Selain Klub Baca Anak-Anak Gregor Samsa, Heri juga membuka akses dan mendekatkan bacaan pada masyarakat melalui Wakul Pustaka. Kegiatan pustaka bergerak tersebut berupaya untuk meningkatkan literasi di masyarakat dengan menjemput dan mendatangi pembacanya. Gerakan ini dilakukan melalui medium yang unik dan sesuai dengan kearifan lokal.

‘’Gerakan ini digagas oleh Nirwan Ahmad Arsuka dan di sejumlah daerah sudah menerapkannya. Seperti ada Kuda Pustaka di Gunung Slamet, buku ditarik kuda dibawa ke desa-desa ternyata peminatnya banyak. Noken Pustaka di Papua, noken atau tas khas Papua berisi buku dibawa keliling untuk dibaca masyarakat. Lalu, ada Motor Pustaka di Lampung, Perahu Pustaka di Makassar, dan Wakul Pustaka di Boja Kendal,’’ jelas alumni Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang itu.

Konsep Wakul Pustaka sudah berjalan sejak 2017. Ia memanfaatkan wakul atau tempat nasi untuk diisi sejumlah buku dan ditaruh di sejumlah lokasi yang banyak dikunjungi orang. Misalnya Poskamling, warung makan, balai desa, warung kelontong dan lainnya di sekitar Boja Kendal. Ini merupakan terobosan baru, bahwa buku bisa digerakkan bukan hanya ditaruh di perpustakaan atau rak-rak di rumah saja.

Menurutnya, menggerakkan orang untuk membaca harus dimulai dari memahami minat, talenta, dan potensi diri masing-masing. Dan ketika hal itu sudah bertemu, buku seolah akan menjadi karpet merah, bagi anak-anak untuk menuju cita-cita mereka.

Sama halnya di Balikpapan, di wilayah pesisir, tepatnya di kawasan Manggar Baru, Balikpapan Timur. Ada sebuah pojok baca yang dikhususkan untuk anak-anak usia 5 tahun atau pra sekolah dasar bernama Pondok Belajar Pinggir Pantai. Tempat belajar ini dibentuk oleh pasangan suami-istri bernama Rahmat Setya Hidayat dan Putri Muharromiah.

Berawal dari kebingungan menghabiskan waktu selama work from home (WFH). Kala itu Rahmat bertanya kepada istrinya mengenai kegiatan yang bermanfaat dilakukan selama di rumah. Karena di dekat rumah mereka banyak anak-anak, tiba-tiba terlintas keinginan mereka untuk mengajar.

"Awalnya ngobrol sambil main-main dulu, lama-kelamaan ya, keterusan kita ajarinnya," kata Putri, saat dihubungi IDN Times.

Dua tahun berselang, Putri memiliki enam murid. Sebenarnya saat pertama pondok belajar ini didirikan, ia bisa mengajar lebih banyak anak. Hanya saja karena sang suami dan adiknya, Pitra Annisa yang sering membantunya mengajar, kembali bergelut dengan aktivitas mereka, ia pun kewalahan.

Mengajak anak-anak untuk belajar memang bukanlah hal gampang. Biasanya perkara gawai menjadi persoalan utama. Namun menurut Putri, anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya rata-rata belum terkontaminasi oleh perkembangan teknologi sekarang. Ia sering memberi hadiah untuk menarik perhatian anak-anak.

"Materi yang aku pakai itu ada enam buku per enam step. Aku siapkan hadiah-hadiah kecil setiap mereka ganti buku. Hadiahnya random saja, semampunya dompet," kata dia sambil tertawa.

Meski harus mengeluarkan biaya sendiri, namun pasangan ini mengajar tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun. Walau terkadang ada beberapa orangtua yang memberi imbalan sebagai bentuk terima kasih.

"Semuanya free. Kadang ada orangtua yang kasih Rp50 ribu atau bahkan kasih ikan setelah ayahnya pulang melaut. Di sekitar rumahku memang rata-rata mata pencariannya nelayan," jelas dia.

Selain membaca, Putri juga mengajar anak-anak menulis dan berhitung. Untuk membaca, agar anak-anak didiknya cepat lancar biasanya dia menitipkan satu buku bacaan setiap harinya untuk dibaca anak-anak tersebut saat di rumah.

Baca Juga: Wakul Pustaka di Kendal, Tolak Asumsi Minat Baca Rendah di Masyarakat

3. Terinspirasi membuat perpustakaan keliling sendiri

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiSuasana belajar perpustakaan keliling sebelum memiliki rumah baca twitter.com/adionooo

Tak hanya menjaga keamanan dan ketertiban di wilayahnya, seorang polisi di Kota Surabaya ternyata juga memedulikan pendidikan dan literasi warganya. Bripka Sugeng merupakan Bhabinkamtibmas Polsek Bubutan Polrestabes Surabaya. Dengan uang pribadi, Sugeng mendirikan taman bacaan dan perpustakaan keliling bagi anak-anak.

"Jangan berhitung materi dengan ilmu pengetahuan, jika generasi penerus kita adalah orang-orang yang hebat dan pintar, kita juga yang bangga karena awalnya berkat niat keinginan diri kita,” ujar Sugeng, Sabtu (6/11/2021).

Ia menuturkan, taman bacaan ini memang merupakan inisiatifnya sendiri untuk meningkatkan tingkat literasi dan pengetahuan anak-anak di Gang 3 Tembok Lor, Bubutan, Surabaya. Sugeng menyulap lahan kosong bekas pengolahan kayu menjadi taman bacaan bagi anak-anak lengkap dengan koleksi ratusan buku.

Setidaknya ada 250 buku yang terpajang di etalase taman bacaannya. Buku-buku itu ia dapatkan dari berbagai sumber mulai belanja sendiri serta sumbangan dari rekan-rekanannya.

"Ini untuk mencerdaskan anak-anak yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa di masa depan," ungkapnya.

Tak hanya taman bacaan, Sugeng juga terkadang membawa beberapa buku koleksinya untuk menjadi perpustakaan keliling. Saat Sugeng datang di perkampungan, anak-anak sekitar langsung mengerubunginya.

"Baru turun dari motor tapi langsung ditarik-tarik, ditanyai apa ada buku baru," tuturnya bangga.

Penggerak Literasi Digital Nasional, Dr Nasrul Syarif, memuji inisiatif Sugeng. Ia berharap akan lebih banyak lagi penggerak literasi dari berbagai kalangan di masyarakat.

"Polisi bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat. Ini lah teman-teman sekalian apa yang kita tabur maka itu yang akan kita hasilkan, kalau kebaikan yang kita tabur maka akan menghasilkan kebaikan pula,” sebut Nasrul saat mengunjungi lokasi taman bacaan di kampung Tembok Lor.

Sama halnya Adi Sarwono, pegiat literasi Busa Pustaka di Lampung yang menjalankan mobil perpustakaan keliling di daerah-daerah terpencil di Bumi Ruwa Jurai. Menurutnya, antusias anak-anak membaca sebenarnya tinggi selama aksesnya terbuka.

"Selama ini bukan minatnya yang rendah tapi terbiasa tidak ada akses. Kalau saya datang ke tempat-tempat baru itu mereka langsung antusias sekali ketika mendapat akses untuk membaca," kata laki-laki akrab disapa Mang Adi itu, Sabtu (1/4/2022).

Mang Adi tak menampik gawai membuat fokus anak-anak dalam membaca teralihkan. Namun kemajuan teknologi tersebut tak bisa dilawan, sebab anak-anak saat ini juga membutuhkan gawai sebagai sarana pendidikan.

"Saat ini kan informasi gak cuma dari buku, gawai juga memiliki banyak informasi. Jadi melalui perpustakaan keliling ini saya edukasi anak-anak bagaimana menggunakan gawai secara bijak," terangnya.

Ia menganggap buku menjadi kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi untuk anak-anak. Melalui perpustakaan keliling, Mang Adi megedukasi anak-anak tentang dampak negatif jika menggunakan gawai secara berlebihan.

Terkait fasilitas membaca di Lampung saat ini, menurut Mang Adi perpustakaan keliling digerakkan perpustakaan daerah masih belum maksimal. Apalagi anak-anak yang datang ke perpusatakaan daerah juga sangat jarang. Mengingat lokasinya jauh dan informasi yang dibagikan perpustakaan daerah belum menjangkau seluruh kalangan masyarakat.

"Karena tidak semua orang tahu Instagram. Artinya anak-anak dan orang tua, maaf, dengan ekonomi menengah ke bawah gak tahu misal ada pengumuman lomba ini dan itu di Perpusda," ujarnya.

Adanya buku digital yang digaungkan perpustakaan nasional saat ini menurut Adi, juga tidak bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Sebab tidak semua masyarakat memiliki gawai memadai untuk mengunduh aplikasi membaca secara digital tersebut.

"Pengalaman saya waktu sekolah daring kemarin, puluhan anak saya yang cover kuota internet dan gawainya. Karena kemampuan orang tua mereka terbatas. Kita mau teriak tentang digital tapi aksesnya seperti apa?," tuturnya.

Baca Juga: Pegiat Literasi Lampung: Antusias Anak Membaca Tinggi tapi Akses Kurang

4. Pegiat literasi sebagai stimulator minat baca

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiKegiatan Perpustakaan Alam Malabar. IDN Times/Istimewa

Upaya meningkatkan minat baca dan tulis ini kemudian dilakukan banyak anak muda di berbagai komunitas. Kabupaten Bandung, tepatnya Jalan Kampung Cibulakan, Desa Mekarsari, terdapat Perpustakaan Alam Malabar.

Tempat ini menjadi cikal bakal anak muda menularkan budaya literasi pada anak-anak. Penggagasnya adalah Iman Sulaeman, atau lebih akrab disapa Kang Dayak. Ia mendirikan Perpusatakaan Alam Malabar pada 2020.

"Awal mulanya banget aktif mengajar sebenarnya pada Desember 2018. Saya manfaatkan bekas kandang ayam depan rumah yang dirombak jadi ruang baca sekaligus belajar," ujar Iman ketika berbincang dengan IDN Times, Minggu (3/4/2022).

Awal mula gerakan ini dibuat Iman sendiri tanpa bantuan donatur dari manapun. Ia coba memberikan ilmu yang selama ini didapat untuk membuka ruang baca hingga les gratis. Tak hanya berkaitan dengan pendidikan di sekolah, anak-anak yang ikut kegiatan di Perpustakaan Alam Malabar juga diajarkan tata cara bertani dan mencintai lingkungan.

"Awal mula berdiri pada pertengahan 2022 kita fokus kegiatan di tempat dulu. Terus main ke sawah dan sungai yang ada di sekitar apalagi aliran sungai ini kan Citarum hulu. Coba bantu bersih-bersih lingkungan juga sampai belajar alat musik tradisional," ungkap Iman.

Memberikan edukasi agar rajin membaca buku pada anak-anak sering juga dilakukannya dengan malapak. Iman menggelar lapakan berbagai buku bacaan yang ada di Perpustakaan Alam Malabar. Dia yakin, cara ini sedikit demi sedikit bisa menyadarkan masyarakat pentingnya meningkatkan literasi sejak dini. Termasuk mengirimkan buku tersebut ke berbagai komunitas di daerah lain yang sama-sama membutuhkan.

"Untuk kegiatan penyebaran buku guna mendukung sesama penggerak literasi di pelosok mungkin sudah hampir se-Indonesia, sih. Mulai dari Kepulauan Karimun sampai ke Wamena kita sudah pernah kirim," kata dia.

Pertukaran informasi sesama penggerakan pun dilakukan, sehingga Iman dan rekan di daerah tahu apa yang harus mereka lakukan untuk meningkatkan literasi anak-anak di tengah tantangan digitalisasi.

Iman mengatakan, saat ini banyak orang tua yang membiarkan anak mereka sudah memegang gawai sendiri. Padahal anak itu seharusnya bisa diajarkan bermain dengan bebas, membaca, atau menulis.

"Makanya kita di perpustakaan alam lebih suka ajak anak berkegiatan di alam bebas, kehidupan tradisional yang menjadi budaya. Hal seperti ini sekarang sudah hampir luput dari jangakauan orang tua. Padahal seharusnya dibiasakan sehingga anak tidak selalu bermain dengan gawai atau menikmati kecanggihan internet semata," kata dia.

Sebuah tempat di Kompleks Perumahan PWI, Jalan PWI, Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara (Sumut), berdiri Rumah Literasi Ranggi (RLR). Ketua Yayasan RLR, Ranggini, mengatakan ada ratusan buku yang disediakan olehnya. Ia membuat konsep menarik untuk membaca dengan bermain serta rumah yang memiliki interior unik didominasi kayu.

Isal, merupakan orangtua dari anak yang ikut serta belajar di RLR, mengakui bahagia karena terbantu untuk memantau pendidikan anaknya. Ia menilai, anak-anaknya telah memiliki perubahan mulai dari etika dalam berkomunikasi di keluarga hingga rajin untuk belajar.

"Lumayan, dulu gak pandai baca sekarang sudah bisa anak-anak ini. Di sini banyak anak-anak yang gak mampu mau belajar dan sekolah," ujarnya.

Dirinya berharap pemerintah lebih memperhatikan anak-anak yang tidak mampu sekolah karena faktor ekonomi. "Ya kalau bisa diperhatikanlah anak-anak ini, untuk menyalurkan bantuannya ke mari," ujarnya.

Bagi Supardi, Ketua Komunitas Literasi Bale Anak Desa di NTB, minat baca anak-anak di tempatnya cukup tinggi. Hal tersebut terlihat ketika mereka turun ke desa-desa. Sayangnya minat besar anak-anak tak terfasilitasi.

"Belum terpenuhi fasilitas bahan bacaan yang yang menarik sesuai dengan minat anak-anak. Fasilitas bacaan masih minim," kata pria yang biasa disapa Bang Ade ini.

Baginya, kemajuan teknologi memang berpengaruh pada minat baca anak-anak. Namun kemajuan teknologi sebenarnya bisa membantu untuk meningkatkan literasi jika digunakan dengan benar, dan justru sebaliknya jika tidak digunakan dengan benar.

"Anak-anak tidak perlu dilarang main gadget karena mereka hidup di zaman teknologi. Yang perlu dilakukan adalah mengarahkan dan mendampingi agar penggunaan teknologi ke arah yang positif. Di sini peran keluarga sangat penting," ucapnya.

Baca Juga: Memupuk Minat Baca Anak dari Lingkungan Keluarga hingga Lapakan Buku

5. Mengenalkan buku di usia empat tahun

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiKomunitas literasi di Makassar mengajak anak belajar bersama. (Dok. Sulaiman pegiat literasi dan penata aksara penerbit buku di Makassar)

Mengajak anak-anak untuk membaca bukan perkara mudah. Butuh konsistensi, kesabaran, serta trik agar mereka fokus mendengar atau mengeja sebuah kata menjadi rangkaian kalimat hingga dimengerti.

Sulaiman, pegiat literasi akar rumput di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, memiliki pendapat jika usia ideal anak untuk diperkenalkan dengan buku bacaan bisa dimulai sejak 4 tahun.

"Menurut pengalamanku, di usia itu rasa keingintahuan anak itu sangat menggebu-gebu," kata Sulaiman saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (1/4/2022).

Menurut Sulaiman, anak akan semakin banyak bertanya di usia empat tahun. Orang-orang terdekat seperti orangtua dan keluarga, bisa mengarahkan pembicaraan untuk menjawab pertanyaan anak lewat buku. "Anak pasti bertanya, 'kenapa bisa tahu?', kita sampaikan karena membaca," ucapnya.

Seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak mulai tertarik dan berasumsi bahwa membaca bisa mendapatkan banyak pengetahuan. Orang-orang di lingkungan terdekat seharusnya tak membatasi keinginan anak. "Jangan kita yang pilah buku-buku ini misalnya bagus untuk anak," timpalnya.

Ia mendorong agar orangtua membiarkan anak memulai rasa keingintahuannya dengan memilih buku atau bahan bacaan pilihannya sendiri. Apalagi bila anak diajak ke suatu tempat yang punya banyak pilihan buku. "Terutama buku anak-anak. Jangan dibatasi, jangan dilarang," pintanya.

Pola lain yang bisa dilakukan adalah mengajak anak ke toko buku, perpustakaan, atau bahkan ke Pekan Raya Buku. Pria yang akrab disapa Haci ini menuturkan, anak-anak  biasanya tertarik membaca bila melihat sampul bukunya. "Dari situ biasanya mereka seperti dipancing," tuturnya.

Bertahun-tahun menggelar lapak buku bersama komunitasnya, Haci juga kerap mengamati dan membandingkan pola anak yang tertarik membaca. Kecanggihan tekonologi lewat smartphone, seperti tontonan YouTube, tidak bisa juga dipisahkan dari keseharian anak. 

"Meskipun anak-anak di usia itu juga kan sudah diperhadapkan atau dibiasakan dengan gadget segala macam. Sebenarnya yang paling mendasar lingkungan keluarga, kalau anak diarahkan misalnya nonton HP, untuk mendengar dongeng misalnya, itukan bisa bermanfaat," katanya.

Fitri Restiana, penulis buku anak asal Lampung menjelaskan, minat baca merupakan salah satu indikator masyarakat yang literat (melek baca). Selain motivasi dan keingintahuan, ketersediaan bahan bacaan baik isi, harga, maupun pendistribusian, akan berpengaruh pada tinggi atau rendahnya minat baca.

Kini terjadi dinamika menarik pada ranah buku cerita anak. Jika dulu penyampaian pesan dan nilai moral didominasi dengan cara tersurat, sekarang lebih fokus ke makna tersirat melalui dialog, narasi, terutama ilustrasi.

"Hal ini menjadikan buku cerita anak lebih kaya, berwarna, hangat, dan dekat dengan pembacanya. Penjenjangan buku dan atribut lainnya yang dibuat oleh Kemendikbud juga memengaruhi ketersediaan bahan bacaan untuk anak di tanah air," kata Fitri kepada IDN Times.

Terkait harga buku cerita anak, menurut Fitri menjadi PR pemerintah, penerbit, dan stakeholders terkait agar bisa berkoordinasi. Biaya cetak, distribusi, atau pajak, harus menjadi perhatian khusus agar buku-buku bisa dinikmati dan dimiliki masyarakat.

"Jadi bukan anak-anak tak berminat membaca buku, tapi ada beberapa kendala yang menjadikan anak-anak terbatas untuk mengakses buku," ujarnya.

Menurut Fitri, anak-anak sampai usia pembaca lancar (12 tahun) membutuhkan peran orangtua yang literat. Namun untuk pembaca lanjut, mahir, dan kritis (di atas usia 12 tahun), menabung dan membujuk orangtua atau orang yang lebih tua merupakan upaya yang masih dipertahankan untuk mendapatkan buku incaran.

"Versi buku digital juga membantu anak-anak bisa membaca buku dengan biaya yang jauh lebih murah," ujarnya.

6. Melakukan tujuh aksi literasi keluarga

Kartu Kuning Minat Baca Anak; Godaan Gadget dan Perjuangan LiterasiIlustrasi Toko Buku (Book Store) (IDN Times/Anata)

Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Tjahjo Suprajogo, menyebut era perubahan akibat digitalisasi atau disrupsi diperlukan budaya baca keluarga yang kuat. Menurutnya, materi pembelajaran tersedia melimpah di internet, dan jarak baginya bukan lagi masalah.

"Buku dan referensi tidak hanya tersedia di toko buku atau perpustakaan (e-book, e-journal, slide share), bahkan fungsi guru bergeser, lebih mengarahkan pada nilai-nilai, etika, budaya, moral, kebijaksanaan dan pengalaman, yang tidak dapat diajarkan oleh Google atau mesin pencari lainnya," ucap dia.

Anak-anak pun harus dipersiapkan agar bisa menyesuaikan diri, terus berinovasi, memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan sehat dengan terus belajar. Selain itu, orangtua tetap menyampaikan pentingnya interaksi fisik dan sosial serta berkomunikasi secara terbuka.

Ia menjelaskan, anak tujuh aksi literasi keluarga yang bisa dilakukan. Pertama terkait Stimulasi, yakni mengikutsertakan anak pada lingkungan baca yang menggairahkan (immersion). Kedua membuat Imitasi. Anak sebagai peniru ulung kerap menjadikan orangtua menjadi role model pembaca yang baik. 

Ketiga yaitu Asosiasi positif. Orangtua perlu membuat suasana yang menyenangkan agar anak memperoleh kesan positif saat membaca dan berliterasi. Kemudian poin keempat dengan Repetisi, atau pengulangan yang konsisten agar menjadi kebiasaan untuk membaca.

Lalu kelima tentang Konsistensi. Lakukan kegiatan membaca secara terus menerus baik dengan durasi pendek atau frekuensi tinggi agar terbentuk pola baca yang rutin. Keenam, membuat Variasi dan Fasilitasi dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang tersedia di rumah, baik indoor dan outdoor. Sedangkan yang terakhir adalah Apresiasi dan Motivasi dengan menghargai setiap proses dan tahapan anak dalam membaca

Tim penulis IDN Times: Feny Maulia Agustin (Sumsel), Debbie sutrisno (Jabar), Anggun Puspitoningrum (Jateng), Riani Rahayu (Kaltim), Wayan Antara (Bali), Silviana (Lampung), Sahrul Ramadan (Sulsel), Muhammad Nasir (NTB), Ardiansyah Fajar dan Fitria Madia (Jatim), Indah Permatasari (Sumut), dan Muhammad Iqbal (Banten).

Baca Juga: Perpustakaan Alam Malabar, Membumikan Kembali Literasi untuk Anak-anak

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya