Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi gaji (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi gaji (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Persentase penduduk miskin di Sumsel pada Maret 2025 mencapai 10,15% dari total populasi, setara dengan 919.600 jiwa.

  • Kenaikan nilai kemiskinan terjadi di wilayah perkotaan, dengan rata-rata satu rumah tangga miskin di Sumsel terdiri dari 4,88 anggota.

  • Sebaran penduduk miskin menunjukkan kenaikan di wilayah perkotaan dan penurunan signifikan di pedesaan. Kategori miskin adalah pendapatan per kapita di bawah Rp2,83 juta.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan (BPS Sumsel) merilis garis kemiskinan pada Maret 2025 mengalami peningkatan di wilayah perkotaan. Berdasarkan perhitungan batas pendapatan, BPS Sumsel mencatat persentase penduduk miskin naik sebesar 0,8 persen.

Kenaikan nilai kemiskinan tersebut tercatat meningkat dibandingkan dengan September 2024, berdasarkan data per satu semester yang dihimpun hingga Maret 2025.

1. Kategori miskin untuk 4 anggota keluarga mendapatkan masing-masing Rp581.702

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto (Dok. BPS Sumsel untuk IDN Times)

Menurut Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto, secara statistik dan nilai pendapatan, kategori miskin yakni, jika dalam satu rumah tangga hanya memiliki pemasukan sekitar Rp2,83juta per bulan dan nilai itu untuk menanggung serta mencukupi kebutuhan 4 jiwa dalam satu Kartu Keluarga (KK).

"Rata-rata satu rumah tangga miskin di Sumsel terdiri dari 4,88 anggota. Dengan komposisi itu (Rp2,83 juta), per jiwa mendapatkan 581.702 per kapita per bulan," kata dia, Rabu (30/7/2025).

2. Nilai kemiskinan di Sumsel menurun jika dilihat perbandingan jumlah populasi menyeluruh

ilustrasi orang miskin (pexels.com/Jimmy Chan)

Wahyu menjelaskan, secara keseluruhan, persentase penduduk miskin di Sumsel pada Maret 2025 mencapai 10,15 persen dari total populasi. Jumlah tersebut setara dengan 919.600 jiwa atau menurun 29.200 orang dibandingkan data enam bulan sebelumnya.

“Menurun kalau rasio data menyeluruh. Tetapi jika berdasarkan wilayah perkotaan mengalami peningkatan. Untuk penurunan ini setara dengan 0,36 persen poin dibandingkan September 2024," jelas dia.

3. Angka kemiskinan di Sumsel harus disoroti pemerintah daerah

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto (Dok. BPS Sumsel untuk DN Times)

Meski secara keseluruhan data kemiskinan di Sumsel melandai, sebaran penduduk miskin harus disoroti pemerintah daerah. Sebab, angka kemiskinan termasuk dalam skala dan indikator suatu wilayah, apakah daerah tersebut layak ditetapkan sebagai status ekonomi maju atau rendah.

"Sebaran penduduk miskin berdasarkan wilayah menunjukkan bahwa di wilayah perkotaan mengalami kenaikan, sementara di pedesaan justru terjadi penurunan signifikan. Jika pendapatan per kapita di bawah angka itu (Rp2,83 juta) maka penduduk dikategorikan sebagai miskin,” katanya.

Nilai kemiskinan lanjut wahyu, ditetapkan dari berbagai sisi. Termasuk sisi konsumsi, sejumlah komoditas utama tercatat memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan, yakni beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan mie instan. Perubahan harga atau keterjangkauan komoditas tersebut dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat miskin.

Editorial Team