Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi IHSG
ilustrasi IHSG (Timmy Si Robot)

Intinya sih...

  • Nilai IHSG turun 6,8 persen ke level 8.369,48 pada 28 Januari.

  • MSCI membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar.

  • Pasar saham bergerak dalam siklus, tekanan terhadap IHSG lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal global daripada faktor domestik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Sumatra Selatan Arifin Susanto menilai, penurunan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan tren negatif pada 28 Januari, bukan pertanda ekonomi melemah. Namun kondisi tersebut adalah siklus pasar modal wajar, sehingga tak perlu khawatir.

"Penurunan tajam IHSG yang katanya anjlok dan terjadi dalam beberapa hari terakhir masih merupakan bagian dari dinamika," katanya dikutip Kamis (29/1/2026).

1. IHSG anjlok sebabkan 488 saham merah

Ilustrasi hubungan IHSG dan MSCI yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia. (AI Generated)

Diketahui pada 28 Januari, nilai IHSG pada angka perdagangan terpantau merosot. Yakni IHSG turun 6,8 persen ke level 8.369,48. Akibatnya, 488 saham merah, 408 tak bergerak dan hanya 62 naik.

IHSG ambruk setelah penyedia indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital Internation) mengeluarkan peringatan keras bagi pasar modal Indonesia. Dalam pengumuman, MSCI memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar.

2. Penurunan IHSG dalam siklus wajar untuk mencari keseimbangan

grafik pasar yang anjlok, mencerminkan tekanan terhadap IHSG dan keuangan.

Terkait dengan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) berdasarkan kebijakan MSCI, secara otomatis PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menerapkan kesepakatan sama dalam pembekuan sistem. Namun kondisi itu kata Arifin bukan tanda negatif, melainkan mekanisme perlindungan pasar yang telah diatur dalam regulasi.

“Kalau kita lihat dua hari terakhir, ini sebenarnya hal yang wajar. Pasar saham bergerak dalam satu siklus. Akan ada fase penurunan, lalu mencari keseimbangan, dan pada akhirnya kembali ke kondisi normal," jelasnya.

3. Sentimen global dorong pergerakan IHSG

IHSG.

Arifin menegaskan bahwa tekanan terhadap IHSG saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal global, seperti ketegangan geopolitik dan dinamika ekonomi dunia, dibandingkan faktor domestik.

"Sentimen global memang sedang sangat kuat. Namun dari sisi domestik, fundamental ekonomi tetap solid. Tidak ada persoalan yang mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kinerja pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan sebelumnya justru menunjukkan tren yang sangat positif, sehingga koreksi yang terjadi saat ini tidak mencerminkan pelemahan ekonomi nasional.

Editorial Team