Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi inflasi
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Intinya sih...

  • Inflasi Sumbar tahun 2025 mencapai 5,15 persen, naik dari 0,89 persen tahun sebelumnya.

  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil tertinggi terhadap inflasi Sumbar.

  • Cuaca ekstrem menyebabkan kenaikan harga komoditas seperti bawang merah, cebai merah, beras, dan emas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Padang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat mencatat terjadinya inflasi di daerah tersebut selama 2025 sebesar 5,15 persen dan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

"Angka inflasi Sumbar secara year on year tahun 2025 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibanding tahun 2024 lalu," kata kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto dalam keterangan resminya yang diterima IDN Times, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, peningkatan yang terjadi tersebut dipengaruhi oleh 10 kelompok produk yang selalu menjadi pengaruh terjadinya inflasi di daerah tersebut.

1. Perbandingan inflasi Sumbar

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Sugeng mengatakan, inflasi Sumbar pada tahun 2024 lalu selama setahun tercatat sebesar 0,89 persen dan pada tahun 2025 sebesar 5,15 persen.

"Tapi, secara month to month angka inflasi Sumbar berada pada 1,48 persen dan angka itu meningkat dibanding bulan November yang mengalami deflasi sebesar 0,24 persen," katanya.

Sugeng mengatakan, angka tersebut masih tergolong normal meski berada di atas target yang telah ditentukan sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

2. Kelompok makanan, minuman dan tembakau tertinggi

Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Menurutnya Sugeng, inflasi yang terjadi di Sumatra Barat sepanjang bulan Desember 2025 dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran masyarakat.

"Kami membaginya menjadi 10 kelompok. Pengaruh terbesar itu ada pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memberikan andil sebesar 1,24 persen secara month to month dan sebesar 3,23 persen secara year on year," katanya.

Sementara, untuk kelompok lainnya memberikan andil sebanyak 0 hingga 0,79 persen secara year on year dan secara month to month memberikan andil sebesar 0 sampai 0,14 persen.

3. Cuaca ekstrem jadi penyebab tingginya inflasi

Ilustrasi Inflasi (Foto: IDN Times)

Sugeng mengatakan, cuaca ekstrem yang mengakibatkan bencana di berbagai daerah menjadi salah satu penyebab tingginya angka inflasi di daerah tersebut.

"Cuaca ekstrem tersebut membuat kenaikan harga pada komoditas seperti bawang merah, cabai merah dan beras. Selain itu peningkatan harga emas juga menjadi salah satu yang memberikan andil terhadap inflasi," katanya.

Editorial Team