Comscore Tracker

Begini Cara Astronaut Muslim Salat dan Puasa di Luar Angkasa

#RamadanDiRumah Mungkin gak, sih, untuk menghadap kiblat?

Pangeran Sultan bin Salman al Saud menjadi astronaut muslim pertama di dunia yang bekerja di luar angkasa. Ia telah menjalankan misi antariksa sejak 1985. Pria berusia 63 tahun ini pun menjawab berbagai pertanyaan tentang kewajiban seorang muslim di luar angkasa.

Dalam wawancaranya bersama NPR, Sultan mengungkapkan jika salat dan puasa tak pernah dilewatkan meskipun dirinya tidak berada di Bumi. Seperti apa salat dan berpuasa bagi astronaut di luar angkasa? Mari simak penjelasan Pangeran Sultan dan para ahli antariksa muslim lainnya.

1. Waktu salat ditentukan saat berangkat

Begini Cara Astronaut Muslim Salat dan Puasa di Luar AngkasaPangeran Sultan bersama rekannya. boombastis.com

Tantangan pertama yang harus dihadapi astronaut Muslim adalah penentuan waktu salat. Jika umat Islam di Bumu bergantung jadwal bergerak Matahari, namun di luar angkasa pergerakan sang surya tak bisa diamati secara normal. 

“Astronaut di luar angkasa menyaksikan 16 matahari terbit dan 16 matahari tenggelam dalam sehari, jadi tidak jelas kapan waktu untuk salat dan puasa,” kata Dr. Mohammed Al Ahbabi, direktur jenderal UAE Space Agency.

Hal ini terjadi ketika berada di International Space Station (ISS), markas yang berada di orbit Bumi. ISS mengelilingi Bumi dalam waktu 90 menit. Jika mengikuti perhitungan tersebut, astronaut harus menjalankan salat wajib sebanyak 80 kali, lho

Namun faktanya tidak seekstrem itu. Astronaut bisa mengikuti waktu salat tempat peluncuran misi antariksanya, seperti yang dilakukan Pangeran Sultan. Ia berangkat dari Florida dalam misinya di tahun 1985, maka ia mengikuti waktu salat di kota tersebut selama perjalanan.

Cara Pangeran Sultan pun ditetapkan menjadi standar dalam konferensi Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) pada tahun 2006. Diskusi tersebut menghasilkan buku panduan berjudul A Guideline of Performing Ibadah (worship) at the International Space Station (ISS). Semua hal yang berkaitan dengan ibadah umat Islam di luar angkasa, telah diatur di buku tersebut.

2. Kiblat ke arah bumi atau ke mana saja

Begini Cara Astronaut Muslim Salat dan Puasa di Luar Angkasamuslimworldjournal.com

Setelah waktu salat, pertanyaan selanjutnya adalah arah kiblat. Kiblat umat Islam adalah Kabah yang terletak di kota Mekah, Arab Saudi. Namun bagaimana cara menemukan arah tersebut di luar sana?

Berdasarkan buku panduan di atas, terdapat empat opsi untuk menentukan arah kiblat di luar angkasa, yaitu:

  • Jika bisa menemukan arahnya, menghadaplah ke arah Kabah di Bumi;
  • Menghadap ke arah proyeksi Kabah di langit;
  • Menghadap ke arah Bumi tanpa mempertimbangkan arah Kabah ataupun Mekah;
  • Atau menghadap ke mana saja. 

Keringanan tersebut diberikan kepada astronaut karena hampir tak mungkin untuk menemukan arah yang pas. Hal ini juga sesuai dengan prinsip agama Islam, yang tidak ingin menyulitkan umatnya dalam beribadah. 

Baca Juga: NASA Buka Lowongan, Ini Tahap yang Harus Dilalui untuk Jadi Astronaut!

3. Berwudu pun tak bisa dilakukan secara normal

Begini Cara Astronaut Muslim Salat dan Puasa di Luar Angkasagulfnews.com

Umat Islam diwajibkan berwudu sebelum melaksanakan salat. Tujuanny menyucikan diri terlebih dahulu. Semua bagian tubuh yang masuk ke dalam rukun wudu harus dibasuh dengan air bersih. Mulai dari telapak tangan, wajah, hingga kaki.

Tentu berwudu seperti yang dilakukan di Bumi, tidak bisa dilakukan di luar angkasa. Mengingat astronaut tidak boleh membiarkan butiran air melayang-layang di sekitarnya, agar tidak merusak komponen pesawat.

Solusi untuk masalah ini adalah tayamum. Ini merupakan alternatif wudu yang biasa dilakukan umat Islam ketika tidak menemukan air untuk berwudu. Astronaut bisa menggunakan debu, pasir, atau batu untuk bersuci. Bagian tubuh yang “dibasuh” pun hanyalah telapak tangan, punggung tangan, hingga siku, dan jari-jari. 

4. Bagaimana dengan gerakan salat?

https://www.youtube.com/embed/8rVpxyx8z3g

“Aku harus mengikat kakiku agar bisa berlutut. Kamu tak akan bisa berlutut secara sempurna karena minimnya gravitasi. Tapi, aku salat layaknya seorang traveler. Seperti traveler, kami salat tiga kali dalam sehari, bukan lima kali. Dan aku salat tergantung pada waktu di Florida, tempat aku lepas landas,” kata Pangeran Sultan dalam wawancara bersama NPR.

Sebagaimana Muslim yang sedang dalam perjalanan, astronaut juga mendapatkan keringanan lain berupa jamak dan qasar. Jamak adalah menggabungkan dua waktu salat, seperti yang dilakukan Sultan. Sedangkan qasar adalah menyingkat salat. 

Merujuk pada panduan dari ANGKASA, berikut ini beberapa pilihan posisi salat yang bisa dipraktikkan:

  • Jika berdiri tegak tak memungkinkan, berdirilah di postur apa pun;
  • Duduk juga diperbolehkan. Lakukan gerakan ruku’ dan sujud dengan menundukkan badan mendekati lutut;
  • Tidur miring kanan dengan tubuh menghadap ke arah kiblat;
  • Tidur terlentang;
  • Menggunakan isyarat mata sebagai pergantian postur salat;
  • Atau membayangkan setiap gerakan salat.

5. Astronaut juga berpuasa di luar angkasa

Begini Cara Astronaut Muslim Salat dan Puasa di Luar Angkasapinimg.com

Pangeran Sultan adalah orang pertama yang menunaikan ibadah puasa di luar angkasa. Walau hanya sehari karena ia tiba di penghujung Ramadan, namun Pangeran Sultan berhasil berpuasa hingga waktu berbuka.

NASA sudah memperingatkannya agar tidak memaksakan diri, namun Sultan tetap ingin menjalankan ibadah tersebut. Bagaimana ia melakukannya? 

“Aku berpuasa mengikuti zona waktu yang ada di Florida, tempat di mana aku berangkat. Hal terakhir yang aku lakukan sebelum pergi adalah salat di dini hari dan berdoa kepada Allah untuk memberikan berkatnya kepada semua orang yang kucintai, semua umat Muslim dan semua teman-temanku dalam misi,” ujarnya.

Ia melakukan puasa seperti yang kita lakukan di Bumi. Sahur dilakukannya sebelum berangkat ke luar angkasa hingga waktu magrib. Ia mengaku tak menemukan kesulitan apa pun selama beribadah. Ia bahkan sempat menangis sambil menelepon orangtuanya ketika berhasil khatam Alquran selama menjalankan misi. 

Ternyata yang dilakukan Pangeran Sultan lebih berat ketimbang kita di Bumi. Tapi Pangeran Sultan tetap taat beribadah sebagai muslim. Semoga bisa menginspirasi kita semua agar taat beribadah sesuai perintah agama.

Baca Juga: Ini 9 Hal Normal yang Gak Bisa Dilakukan Astronaut di Luar Angkasa

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya