Comscore Tracker

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang Proklamator

Srimben hidup dalam budaya Hindu-Bali yang sangat kuat

Buleleng, IDN Times-Sinar senja mentari menempel ditubuhku, sesaat turun dari Elf Suzuki, kendaraan yang membawaku dari Denpasar ke Terminal Sukasada, Rabu (7/8). Pukul 16.17 WITA. Saat itu juga, sang baskara hampir paripurna melaksanakan tugasnya.   

Setelah tiga jam bertolak dari Denpasar dan mobil yang membawaku pun pergi, giliran segerombolan ojek pangkalan hingga penyedia angkutan umum mulai berebut menawarkan jasanya. Gemuruh gaduh petang itu lazim aku rasakan di berbagai terminal.

“Mau kemana dek?” tanya seorang tukang ojek dengan aksen Bali-nya.

“Mau ke rumah ibunya Sukarno yang di Buleleng,” jawabku sembari memikul tas yang belum sempat aku gendong.

Aku memiliki keyakinan bila penduduk sekitar mengetahui lokasinya. Sebab, selain menjadi salah satu tempat bersejarah di Buleleng, ancer-ancernya hanya terpaut 10 menit dari terminal ketika aku memeriksa Google Maps.

Namun, balasan yang ia lontarkan justru mengejutkanku yang baru pertama kali melawat ke Bali Utara.

“Ini udah di Buleleng, tapi itu di mana ya?” Bukannya tanpa usaha, kalimat tersebut ia utarakan setelah bertanya pada sekumpulan pemuda yang tengah asik bermain biliar. Sayangnya mereka juga tidak tahu.

Akhirnya, bermodalkan potret gubuk padi dua tingkat yang aku peroleh di internet, kami mulai mengarungi Paket Agung. Hanya itu informasi detail yang bisa aku dapat. Perkara nomor dan patokan rumahnya masih bias.

Setelah memasuki Kelurahan yang dituju, sekitar 15 menit dari terminal, tukang ojek yang aku tumpangi sempat bertanya pada penduduk sekitar. Alih-alih dikenal sebagai rumah ibunya Sukarno, warga yang ia tanya lebih mengenalnya sebagai rumah neneknya Megawati. Itu pun warga kesekian yang sudah ia tanyai.

Pencarian kami akhirnya berujung di Jalan Gunung Batur 24, Kelurahan Paket Agung, Buleleng. Tidak ada plang khusus yang menandakan bilamana tanah seluas empat hektare itu sarat akan sejarah. Hanya gapura dari bata merah dengan payung Bali di kanan-kirinya serta baner bertuliskan “Om Swastyastu” yang menjadi penandanya. Secara kasat mata, tidak ada yang istimewa di tempat ini.

Begitu menembus gapura, aku tidak bisa mengenali bagian mana yang memiliki nilai historis. Aku pun sedikit ragu, apakah ini tempat yang aku cari? Begitu masuk lebih dalam, aku menemukan gubuk padi dua tingkat. Bangunan itulah yang setidaknya aku kenali dari internet, menandakan bahwa aku sudah tiba.

Ada banyak rumah dan tidak semuanya menjadi bagian hidup ibunda sang Proklamator. Tidak ada monumen atau simbol khusus. Tidak ada pemandu kecuali keluarga, itu pun bila mereka sedang berjaga. Jika saja bukan keluarga yang masih menjaga sebagian orisinalitasnya, maka tidak menutup kemungkinan griya tersebut hilang ditelan ruang dan waktu.

Amat disayangkan bila bangsa Indonesia melupakan nilai sejarah tempat tersebut. Padahal, kawasan itulah yang menjadi saksi bisu akan lahirnya “ibu bangsa”. Kelak, di sana pula “rahim nasionalisme” untuk pertama kalinya hadir di Bumi Nusantara. Sungguh tidak ada yang menduga, Paket Agung pada 1881 melahirkan perempuan bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang akan mengubah haluan bangsa kala Indonesia masih dalam kangkangan penjajah.

Baca Juga: Kesaksian Magis Ketika Sukarno Tiba di Bali

1. Menjelajahi masa kecil Ida Ayu Nyoman Rai di Bale Agung

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorSalah satu tempat Ida Ayu Nyoman Rai menghabiskan masa remajanya (IDN TImes/Vanny El Rahman)

Tempat Ida Ayu Nyoman Rai tinggal dan tumbuh dewasa lebih dikenal sebagai Banjar Bale Agung. Lokasinya dekat dengan Pura Bale Agung, disebut juga Pura Desa. Ia dilahirkan dengan nama asli Nyoman Rai dari pasangan Nyoman Pasek (ayah) dan Ni Made Liran (ibu).

Tidak ada riwayat pasti yang menjelaskan kapan ia dilahirkan. Namun, bila ia melahirkan Sukarno pada usia ke-20 di tahun 1901, maka bisa diperkirakan ia lahir pada 1881.

Nama sehari-harinya adalah Rai Srimben. Berakar dari kata “sri” yang berarti kebahagiaan dan “mben” yang bermakna rimbun. Srimben bisa berarti limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan.

Srimben memiliki saudara laki-laki bernama Made Pasek dan adik tiri bernama Ni Made Payas. “Dulu bapaknya sempat menikah lagi. Tapi karena istri pertamanya gak mau dimadu, akhirnya dia (Nyoman Pasek) balik lagi,” terang Penglingsir Bale Agung, Made Hardika, kepada IDN Times.

Perempuan yang memiliki hobi menenun itu mewarisi darah Pasek, salah satu marga yang cukup terkenal di Bali. Bukan karena kastanya, melainkan karena andil pentingnya dalam pembaharuan adat istiadat dan struktur pura yang ada di Bali.

Sebelum Belanda datang menaklukkan Bali, masa kecil Srimben sangat dekat dengan istana. Sebab, salah satu keluarga orangtuanya dipersunting menjadi istri Raja Buleleng. Kolonialisme Belanda menyebabkan ia jatuh miskin dan akhirnya mengungsikan diri ke Bale Agung.

Srimben hidup dalam budaya Hindu-Bali yang sangat kuat. “Kakeknya itu Jero Mangku, pemuka agama Hindu. Biasanya keturunan itu, turun ke anaknya juga,” sambung Made yang masih memiliki hubungan darah dengan Rai Srimben.

Pura Bale Agung menjadi saksi akan penyerahan diri Srimben kepada Yang Maha Kuasa. Inilah yang membentuk karakter religiusnya. Setiap langkah, setiap tutur kata, setiap perilaku, sepenuhnya dibaktikan untuk agama.

Kala pagi datang, ia membersihkan halaman pura sebelum mengerjakan tugas rumah tangga. Siang harinya, dia menenun sembari bergaul dengan saudara-saudaranya.

“Menenun juga membantu ekonomi keluarga. Bersih-bersih pura, siapin sajen. Itu bukan tugas yang bisa diserahkan kepada sembarang orang,” tambah Made.

Berdasarkan penuturan Made, masa kecil Srimben tidak pernah keluar dari Banjar Bale Agung. Selepas ibunya meninggal, dia tinggal bersama Ni Ketut Nisa, adik dari ayahnya. Jarak antara tempat ia dilahirkan dengan rumah ia tumbuh dewasa kurang dari 20 meter. 

“Karena yang tinggal di sini (di Bale Agung) masih keluarga semua. Jadi dia pindah-pindah rumah, tapi ya masih keluarga.”

 

2. Kisah pertemuan Rai Srimben dengan Raden Soekemi

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorTempat Ida Ayu Nyoman Rai lahir dekat dengan Pura Bale Agung (IDN Times/Vanny El Rahman)

Srimben bisa dibilang sebagai gadis pingitan Bale Agung. Ikatan spiritual dan emosionalnya kian mendarah daging seiring tugasnya sebagai penari Rejang, salah satu tarian yang biasa diselenggarakan pada upacara keagamaan.

Made menjelaskan, “gak semua perempuan boleh jadi penari Rejang. Makanya yang nari itu hanya Rai Srimben dengan sepantarannya (pingitan Bale Agung juga).”

Sebelum 1920, kesenian Bali didominasi oleh laki-laki. Bukan perkara lumrah seorang perempuan tampil di muka publik. “Ada stigma kalau perempuan yang tampil di muka umum adalah perempuan murahan, kecuali untuk ritual keagamaan,” tambah akademisi Institut Seni Indonesia (ISI), I Wayan Dibia, kepada IDN Times.

Perempuan itu sendiri tidak menduga bila aktivitas seni-religiusnya di Pura Bale Agung dilirik oleh seorang guru asal Jawa bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Dia merupakan pegawai Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda yang ditugaskan di Buleleng. Pondokannya terpaut 400 meter dari Bale Agung.

Soekami merupakan seorang budayawan dan filsuf. Ketertarikannya terhadap budayalah yang menuntun dia menemukan tambatan hati. Setelah hampir dua tahun bertugas di Buleleng, ia akhirnya terpanah dengan seorang gadis Hindu.

“Waktu itu ada upacara Galungan. Di situlah dia pertama kali lihat Rai Srimben menari,” ungkap Made. “Entah bagaimana, kalau di Pura itu kan banyak bunga. Dia seperti mendapat bisikan, ‘coba lempar bunga itu, siapa pun yang kena dia adalah jodohmu’. Nah ternyata kena sama Rai Srimben. Setelah itu baru mereka berkenalan.”

Selayaknya pemuda yang mabuk cinta, Soekemi terus berjuang untuk menaklukkan hati si gadis pingitan itu.

“Sekolah dia dulu mengajar kini jadi SDN 1 Paket Agung. Dulu dia masih mencari murid keluar-masuk desa. Setelah berkenalan dengan Rai Srimben, dia jadi lebih sering ke Bale Agung mencari murid.”

Bukan hanya Srimben yang terpesona dengan kepandaiannya. Keluarga besar Bale Agung juga antusias menyambut kehadiran Soekemi. Alasannya, Buleleng dikenal sebagai pusat lontar di Bali, tempat di mana kisah Nusantara kuno berkembang.

“Di Buleleng kisah lontar sangat terkenal. Mereka selalu membacakan kisah Ramayana, Mahabarata. Dan itu pakai bahasa Jawa kuno. Makanya Soekemi disambut di Bale Agung, karena dia ahli baca itu. Ini pula yang mendekatkan Soekemi dengan keluarga Bale Agung,” papar Made.

Kala berkumpul membaca lontar, Soekemi sering curi pandang mengagumi Srimben. Begitu pula si gadis, dia sering mengantarkan kopi hanya sekedar memandang Soekemi dari dekat. Benih cinta di antara keduanya tak lagi terbendung. 

3. “Saya berani mrangkat karena saya sangat mencintai I Raden.”

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorIda Ayu Nyoman Rai bersama suaminya Raden Soekemi. Diambil dari buku Ibu Indonesia dalam Kenangan (IDN Times/Vanny El Rahman)

Semasa remaja, Srimben memiliki teman karib bernama Made Lastri. Persahabatan inilah yang mendekatkan Srimben dengan Soekemi. Di samping itu, sepupu Srimben, Putu Kaler yang merupakan rekan Soekemi belajar bahasa Bali, turut mendukung hubungan asmara mereka berdua.

Namun sayang, cinta mereka terhalang oleh “tembok” tak kasat mata yang dinamakan etnis. Srimben adalah orang Bali, sedangkan Soekemi adalah orang Jawa. Srimben beragama Hindu, sementara Soekemi beragama Islam.

Jangankan bermimpi untuk menikah dengan lelaki yang beda agama, menikah dengan orang luar Bale Agung saja sudah menjadi hal yang tabu. “Dulu di situ kan tertutup. Kalau ada perkawinan, ya antar saudara-saudara saja, masih bagian keluarga,” terang Made.

Jangan juga berpikir untuk menjalin hubungan dengan berpacaran terlebih dahulu. “Kalau dulu ya dari lirik-lirikan baru pertama kali ketemu di jalan saja orang sudah bisa menikah.”

Hari demi hari berlalu. Selayaknya menurut adat, Soekemi mendatangi orang tua Srimben. "Bolehkah saya meminta anak ibu‐bapak?" katanya. Orangtua Srimben lalu menjawab, "Tidak bisa. Engkau berasal dari Jawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali‐kali tidak! Kami akan kehilangan anak kami.”

Kendati menghadapi halang-rintang, api asmara dua sejoli itu tak bisa lagi dipadamkan. Satu-satunya jalan untuk menyatukan cinta mereka adalah kawin lari. Soekemi harus menikahi Srimben tanpa restu dari orangtuanya.

Tekad bulat mereka berdua menghancurkan segala batasan yang ada. Janji suci yang diikrakan sudah tidak bisa lagi ditarik. Dengan segenap keberanian, Srimben memilih untuk kawin lari dan tidak kembali hingga malam tiba. Tanggal 15 Juni 1887, mereka berdua resmi menjadi suami-istri sekalipun tidak direstui keluarga mempelai putri.

“Waktu itu usianya Srimben 17 tahun. Biasanya, kalau sampai sore hari anak gadis belum pulang, pasti ada apa-apa. Nah, begitu ada utusan dari Soekemi yang mengabarkan kalau mereka kawin lari, geger itu Bale Agung,” sambung Made.

Dalam buku karangan Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dkk berjudul Ibu Indonesia dalam Kenangan, diceritakan bila dua pasangan muda itu mencari pertolongan kepada polisi setempat. Sementara, keluarga Srimben tidak ingin melepas anaknya begitu saja. Mereka meminta supaya pejabat setempat mengembalikan anaknya, namun polisi menolak.

Akhirnya, dua sejoli tersebut bertemu dengan Nyoman Pasek. Sang ayah sempat bertanya, “Nyoman, kenapa kamu berani merangkat dengan orang luar? Padahal kamu tahu ini sangat bertentangan dengan adat keluarga Bale Agung. Tidakkah kamu dipaksa?”

Air mata Srimben tak lagi tertahankan. Ia harus mengutarakan segalanya dengan isak tangis. “Bapak, saya berani merangkat karena saya sangat mencintai I Raden, begitu pula I Raden terhadap saya,” kata Srimben dengan terputus-putus.

“Walaupun begitu, kamu dan I Raden tetap bersalah tidak diperkenankan pulang ke Bale Agung sebelum mendapat izin dari Bapak, dan Bapak akan tetap menyelesaikan persoalan ini ke pengadilan!”

Srimben rela membayar mahal harga perkawinannya. Bukan perkara 25 ringgit, setara dengan 25 dollar, yang merupakan denda dari pengadilan. Baginya, menjual perhiasan emas dan warisan yang ada tidak lebih berharga dari cinta yang bisa ia perjuangkan. Satu hal yang tentunya menjadi beban adalah putus hubungannya dengan keluarga Bale Agung. 

4. Lahirnya Sukarno di tengah pengasingan keluarga

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorSoekarno bersama kakaknya, Soekarmini, dan ibunya. Diambil dari buku Ibu Indonesia dalam Kenangan (IDN Times/Vanny El Rahman)

Lantaran dianggap mencoreng nama besar keluarga, Srimben tidak lagi diterima di Bale Agung. Kemarahan Nyoman Pasek memaksanya untuk tinggal bersama Soekemi sekitar 1,5 kilometer dari Bale Agung. Komunikasi dengan keluarga hampir terputus. Inilah titik awal roller coaster kehidupan Srimben dimulai.

Mereka tinggal di rumah dengan tembok dan sedikit keramik. Cukup mewah pada zamannya. Ketika Raden Soekarmini lahir di Buleleng pada 29 Maret 1898, kakak Sukarno yang akrab disapa Ibu Wardoyo, hubungan Srimben dengan keluarga Bale Agung sempat membaik. Sang buah hati menjadi salah satu pelipur lara Srimben di tengah rundungan duka.

Sang kakek seperti harap-harap cemas. Ia sangat ingin tahu kabar cucu dan anaknya, tapi sangat gengsi untuk bertanya. Srimben tetap rajin mengirimkan surat untuk memberikan kabar kepada keluarganya.

“Begitu cucu lahir, keluarga Bale Agung yang sepantaran dengan Srimben mulai membaik. Mereka mulai mengunjungi Rai Srimben. Tapi ya orangtuanya masih gengsi,” ungkap Made.

Karena hubungan keluarga tak kunjung membaik, mereka akhirnya memutuskan hijrah ke Surabaya seiring surat pengangkatan Soekemi sebagai guru tertanggal 8 Agustus 1898. Membiasakan diri dengan budaya luar bukan perkara mudah bagi Srimben. Terlebih, kala itu di Kota Pahlawan, sangat sulit menemukan perempuan Bali. Belum lagi stigma buruk kepada wanita yang berkeliaran di ruang publik. Ia kesepian.

Tiga tahun kemudian, terlepas dari perdebatan di mana anak keduanya lahir, lelaki bernama Sukarno akhirnya terlahir saat matahari menyingsing. Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Sukarno bercerita ketika ibunya duduk termenung memandang arah Timur di beranda rumah menantikan matahari terbit. Sukarno kemudian mendatangi ibunya dan dirangkulnya ke dalam hangat dekapannya. Belaian kasih inilah yang tidak pernah Sukarno lupakan.

Kemudian Soekarno bercerita, “dengan suara lunak (ibu berkata) ‘Engkau sedang memandangi fajar, nak’. Ibu katakan kepadakmu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi, saat fajar menyingsing.”

Saat Srimben berjuang di antara hidup dan matinya, Soekemi bahkan tidak mampu memanggil seorang dukun beranak. Adalah seorang kakek tua yang merupakan teman dari Soekemi. Dialah yang membantu proses persalinan Soekarno.

Di saat yang sama, Gunung Kelud menyambut kehadiran Soekarno. Orang Jawa memiliki kepercayaan, kelahiran ketika fajar bersamaan meletusnya Gunung Kelud adalah tanda bahwa Sukarno akan menjadi “putra bangsa”. Sebaliknya, orang Bali yakin bila meletusnya Gunung Kelud menandakan kehadiran Sukarno yang tidak diinginkan semesta.

“Keluarga di Bale Agung dikabari kalau Sukarno telah lahir. Srimben juga menjelaskan, kalau menurut ‘orang-orang pintar’, tanda-tanda kelahiran Sukarno telah menunjukkan bahwa ia akan menjadi orang yang sangat berguna bagi negaranya,” kata Made.

5. Kelembutan dan perlindungan dari seorang ibu

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorIDN Times/Arief Rahmat

Srimben hidup berpindah dengan suaminya. Tercatat pada 28 Desember 1901 dia mengikuti suaminya yang dipindahkan ke Ploso, pada 23 November 1907 dimutasi ke Sidoarjo, kemudian pada 22 Januari 1909 kembali pindah ke Mojokerto, dan pada 2 Februari 1915 reposisi ke Blitar.

Srimben mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual Hindu seperti yang ia pelajari dulu. Sebelum tidur, dia selalu membacakan kisah Mahabarata. Mereka berempat hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sukarno kecil bahkan pernah mengeluh kepada ibunya lantaran tidak mampu membeli kembang api.

Jangankan untuk beli mainan, mereka saja tidak mampu membeli beras. Untuk makan sehari-hari, Srimben hanya mampu membeli padi. Setiap pagi, ia menumbuk butiran-butiran padi hingga menjadi beras.

“Dengan melakukan ini, aku bisa menghemat uang satu sen,” kata Srimben kepada Soekarno. Tidak jarang ia melihat ibunya bekerja di bawah terik matahari hingga tangannya memerah.

“Dengan uang satu sen kita dapat membeli sayuran, nak,” sambungnya. Siapa sangka, himpitan ekonomi justru yang merekatkan hubungan emosional keduanya. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Soekarno akan membantu ibunya menumbuk padi.

Srimben adalah tempat Sukarno menangis ketika sang ayah marah. Srimben adalah candunya. Satu hari, Sukarno pernah kembali ke rumah dalam keadaan langit gelap. Dia bermain di sungai sembari menangkap ikan. Niatnya baik, dia ingin membantu mencarikan lauk untuk ibunya.  Namun, apa yang didapatkan oleh Sukarno justru cambukan dari sang ayah ketika ia pulang dalam keadaan basah kuyup dengan ikan kakap di genggamannya.

“Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan disiplin itu dengan kebaikan hatinya. Oh, aku sangat mencintai ibu. Aku berlari berlindung ke pangkuan ibu dan dia membujukku. Sekalipun rumput‐rumput kemelaratan mencekik kami, namun bunga‐bunga cinta tetap mengelilingiku selalu. Aku segera menyadari bahwa kasih sayang menghapus segala yang buruk,” papar Soekarno.

Soekarno kecil sering sakit-sakitan. Kondisinya yang parah, di samping tuntutan kerja Soekemi yang berpindah-pindah, membuat kakek-neneknya khawatir. Dengan berat hati, akhirnya Srimben mengiyakan tawaran mertuanya untuk merawat cucunya Tulungagung. Perpisahan tersebut membuat Srimben sangat kesepian.

Bahagia kembali menyelimuti Srimben ketika suaminya pindah ke Mojokerto. Mereka tinggal tidak jauh dari rumah mertuanya. Di sanalah Srimben bisa bertemu dengan anaknya. Di Mojokerto pula, Soekarmini mendapatkan jodohnya. Srimben senang, namun juga sedih karena dia ditinggal anaknya. Limpahan kasih sayang akhirnya tercurahkan kepada Sukarno.

6. Merestui segala drama percintaan Sukarno

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorIDN Times/Istimewa

Kebersamaan mereka sayangnya tidak berlangsung lama. Di usianya yang ke-15, Srimben harus melepas kepergian Sukarno ke Surabaya. Ayahnya menitipkan “calon bapak bangsa” itu kepada H.O.S Tjokroaminoto. Srimben tentu berat hati, karena dia akan merasa kesepian di rumah, sukarmini dan Sukarno tidak ada lagi di rumah.

Sebelum melepas kepergiannya, Srimben meminta Souarno untuk berbaring di depan rumah. Kemudian Srimben melangkahi badannya bolak-balik sebanyak tiga kali. Ritual ini dipercaya sebagai penolak bala dan menandakan bahwa si anak telah mendapat restu dari ibunya selama-lamanya.

"Kemudian dia menyuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke Timur dan berkata dengan sungguh‐sungguh, ‘Jangan sekali‐kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah putera sang fajar," ingat Soekarno.

Begitu lulus dari Hogere Burger School (HBS) di Surabaya, Soekarno berencana melanjutkan studinya ke Belanda. Jenjang pendidikan formal adalah keinginan sang ayah. Namun, Srimben tidak merestuinya. Ia tidak ingin anaknya meninggalkan Indonesia.

“Tapi banyak jeleknya untuk pergi ke negeri Belanda. Apakah yang menyebabkan kau tertarik? Pikiran untuk mencapai gelar universitas ataukah pengharapan akan mendapat seorang perempuan kulit putih?" tanya dia kepada Soekarno.

Soearno tetap kekeh ingin melanjutkan kuliah. Srimben mengingatkan tentang keterbatasan uang. Soekarno sadar bila sekolah ke luar negeri akan menguras banyak uang, sementara ekonomi keluarganya serba terbatas. Kemudian, sang ibu percaya bila anaknya tinggal di Indonesia, maka kecintaannya terhadap bangsa ini akan semakin dalam.  

“Aku ingin supaya engkau tinggal di sini, di antara bangsa kita sendiri. Jangan lupa sekali‐kali, nak! Bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulanan ini,” sambung Srimben. Soekarno akhirnya mengalah dan memilih bersekolah di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB)

Sedari sekolah di Surabaya, Srimben bersama Soekarmini sering mengirimi Soekarno uang diam-diam. Sangu dari ayahnya sangat terbatas, mereka khawatir Soekarno tidak punya uang jajan. Memasuki jenjang universitas, Srimben sadar bila kocek yang dirogoh berkali-kali lipat lebih besar.

Dia mengerti bila gaji suaminya tidak akan cukup. Akhirnya, dia menjual seluruh perhiasan dan warisan dari orangtuanya. Semua keluarga turut andil untuk membantu pendidikan “sang putra fajar”.

Tatkala anaknya di Bandung, Srimben kembali merasa sedih karena ia mendengar rencana Soekarno untuk menceraikan Utari, putri dari Tjokoroaminoto. Perasaan yang sama datang ketika anaknya berencana menikahi seorang janda bernama Inggit Ganarsih. Namun, kata-kata yang ia sampaikan kepada putranya selalu sama.

“Pilihlah jalan yang terbaik dan kalau itu niatmu, silahkan jalani dengan baik,” kata Srimben. Sang ibu mengutus Seokarmini ke Bandung untuk menyaksikan pernikahan adik laki-lakinya.

Sekalipun Soekarno memiliki kepribadian yang tegas dan garang, namun dia sangat manja dengan ibunya. Salah satu alasan kenapa ia berpisah dengan Utari karena ia merindukan sosok seorang ibu. Ia mendambakan perempuan yang bisa menyayanginya sebagai istri serta mengayominya sebagai ibu. Ia mendambakan perempuan yang bisa menjadi tempatnya berkeluh dalam Lelah.  

 

7. Srimben adalah sosok di balik kekuatan Soekarno melawan Belanda

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorPotret Ida Ayu Nyoman Rai bersama anak dan cucunya, Guntur Soekarno Putra. Diambil dari buku Ibu Indonesia dalam Kenangan (IDN Times/Vanny El Rahman)

Kebencian Srimben terhadap penjajah mengakar ketika Belanda datang ke Bali untuk memporak-porandakan Kerajaan Buleleng. Hal tersebut mengakibatkan keluarganya jatuh miskin. Rasa dendam itu terus berkecamuk seiring penangkapan Soekarno sebagai tahanan politik.

Srimben sadar bila Soekarno bukan lagi sekedar buah hatinya. Ia telah “mewakafkan” putranya untuk membebaskan Indonesia dari kolonialisme. Srimben paham, bila bangsa ini lebih membutuhkannya daripada dirinya sendiri.

Namun, apa daya, dia tetap seorang perempuan desa tanpa pendidikan formal yang tidak mengerti politik. Srimben bersama Soekarmini dan Inggit sempat mendatangi Soekarno kala mendekam di Sukamiskin.

“Saya ibunya Soekarno,” kata Srimben seraya berteriak kepada petugas yang berjaga. Nyatanya, setelah bertolak dari Blitar ke Bandung, ia tidak mendapat apa yang diharapkan. Petugas justru membentak balik dan menyuruhnya pergi. Setelah Srimben melaporkan kejadian tersebut kepada suaminya, Soekemi akhirnya memutuskan untuk pensiun dini sebagai guru dari Kementerian Pendidikan Belanda.

Saking bencinya Srimben dengan Belanda, pada 1946 ketika usianya sudah menginjak 70 tahun, ia sempat heran karena tidak terdengar gelegar tembakan atau Meriam dari beranda rumahnya. Padahal, sedang terjadi perang jarak dekat antara Belanda dengan pasukan gerilya.

Soekarno bercerita, “rupanya ibu tidak mendengar apa‐apa dari pihak kita. Dengan mata yang bernyala‐nyala beliau keluar mendatangi kami, ‘kenapa tidak ada tembakan? Kenapa tidak bertempur? Apa kamu semua penakut?”

Sudah berkali-kali Soekarno keluar-masuk penjara. Dia sulit menerima informasi dari luar, begitupun sebaliknya, ia kesulitan mengirimkan informasi. Sekalipun ada kabar masuk, tidak lagi dari sekedar pesan yang ambigu.

Di tengah perpindahan penjara, Soekarno sempat bertemu dengan ayah dan ibunya di Surabaya. Mereka hanya diizinkan bertemu selama tiga menit. Bagi Soekarno, itu bisa menjadi tiga menit paling berharga selama 69 tahun masa hidupnya. Tatkala semangatnya hampir pupus, ketidakmampuan untuk membayangkan pengasingan di tengah hutan antah berantah, momentum 180 detik itulah yang mengubah haluan bangsa.

Ketika sang ayah memeluknya dengan penuh harap bisa melepaskan Soekarno, Srimben justru meyakinkan apa yang diperjuangkan anaknya adalah kebenaran. Air mata mulai membasahi pipi Soekarno. Dengan sedikit senyum ia mencoba meyakinkan dirinya bersama ayahnya.

Di detik-detik krusial itulah Srimben mengatakan, "sudah suratan takdir bahwa Sukarno menyusun pergerakan yang menyebabkan dia dipenjarakan, lalu dibuang dan kemudian dia akan membebaskan kita semua. Sukarno tidak lagi kepunyaan orangtuanya. Karno sudah menjadi kepunyaan rakyat Indonesia. Kami mau tidak mau menyesuaikan diri dengan kenyataan ini."

Di masa pengasingan inilah Srimben bertubi-tubi dihantam kesedihan. Soekarmini harus berpisah dengan suaminya. Sementara, dia hanya bisa menunggu kabar burung soal kondisi Soekarno, apakah itu dari surat kabar atau sanak saudara. Semuanya dihadapi dengan tabah.

Setelah Soekarno bebas kondisi Blitar tempat Srimben tinggal kembali dibuat geger dengan rencananya menceraikan Inggit. Soekarno juga mengutarakan harapannya untuk menikahi Fatmawati. Srimben tidak dapat berbuat banyak, ia yakin apa yang dilakukan anaknya adalah yang terbaik.

Setelah diterpa duka bertubi-tubi, akhirnya kabar baik datang. Ia mendengar bahwa Fatmawati akan melahirkan anak pertamanya. Sang cucu yang dinanti akhirnya tiba. Soekarno meminta ayah dan ibunya untuk menemani Fatmawati di Jakarta. Guntur Soekarno Putra adalah hadiah dari Yang Maha Kuasa atas penderitaan panjang yang dirasakan Srimben. Betapa senangnya dia.

 

Sayangnya, kebahagaiaan tidak berlangsung lama. Srimben harus ditinggal oleh Soekemi karena jatuh sakit. Suamiya wafat pada 8 Mei 1945.

8. Bakti Soekarno kepada sang ibu dan pemberian gelar bangsawan

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorPotret Soekarno ketika minta restu dari sang ibu. Diambil dari buku Ibu Indonesia dalam Kenangan (IDN Times/Vanny El Rahman)

Revolusi berhasil. Ramalan menjadi nyata. Soekarno diberi amanat menjadi Presiden Indonesia yang pertama. Srimben menghabiskan masa tuanya di Blitar. Sekalipun dia adalah “Ibu Bangsa”, dia tidak pernah mau menginjakkan kakinya ke Istana negara.

“Katanya Istana itu warisan londo (Belanda),” sambung Made.

Di usia senjanya, Soekarno akrab memanggilnya Ibu Sosro. Baktinya kepada orangtua tidak pernah direnggut jabatan. Kalau Soekarno ingin pergi ke luar negeri, ia pasti mengunjungi ibunya di Blitar.

Soekarno         : “Ibu, saya mau pergi lagi; saya mohon doa restu”

Srimben          : “Jangan lama”

Soekarno         : “Mbakyu (Soekarmini) mau ikut ke Jakarta, ibu. Apa boleh tidak?”

Srimben          : “Pendapatmu bagaimana?”

 

Demikian penggalan percakapan Soekarno dengan ibunya dikutip dari Harian Sin Po.

Lima tahun terakhir, ketika Srimben sudah sakit-sakitan dimakan usia, Soekarno sering mengunjunginya. Bilamana ia sakit, Soekarno tiba, maka rasa sakitnya hilang sesaat. Bila Soekarno kecil melihat ibunya sebagai obat segala penyakit, maka ketika Soekarno dewasa, dia adalah pelipur lara bagi sang ibu.

Srimben meninggal pada 12 September 1958 di usianya yang ke-77. Ketika ia wafat, Soekarno benar-benar menyiapkan seluruhnya, mulai dari upacara pemakaman hingga liang lahatnya. Inilah bukti kecintaan Soekarno terhadap ibunya.

Lima tahun kemudian, Soekarno mengumpulkan sanak keluarga Bale Agung. Dia memiliki rencana untuk menganugerahi ibunya gelar bangsawan. “Bung Karno bercerita, saya itu sangat mencintai perempuan. Ketika dia melahirkan dia mengorbankan nyawa. Saya sangat menghormati ibu saya. Saya ingin memberikan gelar kepada ibu,” tiru Made.

Atas dua pertbangan, akhirnya keluarga menyetujui rencana tersebut. “Pertama, karena Soekarno adalah presiden, sehingga dia memiliki hak untuk memberikan gelar bangsawan. Kedua, secara garis keturunan, memang Srimben masih keturunan Brahmana. Sejak itulah batu nisannya diganti dan hingga kini Namanya dikenal sebagai Ida Ayu Nyoman Rai,” tutur Made.

9. Belajar dari Ida Ayu Nyoman Rai

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorLukisan Ida Ayu Nyoman Rai di Bale Agung (IDN TImes/Vanny El Rahman)

Bila Jawa memiliki R.A Kartini, maka Bali memiliki Ida Ayu Nyoman Rai. Walau ia dibesarkan di lingkungan yang sempit, ternyata cara berpikirnya mampu menembus zaman. Jika saja dia tidak pernah melawan kehendak orangtuanya, maka Indonesia tidak akan pernah punya Soekarno.

“Dia menunjukkan bagaimana esensi beragama dan bersosial. Bukan cuma kasta, tapi juga agama ia lampaui. Justru keyakinan spiritual, perenungannya di Pura itulah yang membuatnya memiliki keyakinan bahwa perbedaan agama bukan halangan,” sambung Dibia.

Paling tidak ada dua nilai yang patut diteladani dari sosok Ida Ayu Nyoman Rai. “Pertama kepercayaannya kepada Tuhan. Inilah yang benar-benar turun ke Soekarno. Dia adalah contoh bagaimana perbedaan agama hanya urusan beda cara beridabah, tapi tujuannya sama.”

“Yang kedua adalah toleransi. Bagaimana dia bisa menerima suaminya yang orang Jawa dan muslim, wah itu sudah sangat melampaui zaman,” tambah dia.

Dibia melandaskan penjelasnnya berdasarkan aspek geografis. Buleleng yang berada di Utara lebih cepat mengalami modernisasi dan proes demokratisasi daripada wilayah Bali lainnya.

“Karena kapal-kapal lebih mudah masuk dari Utara daripada Selatan. Jadinya mereka berinteraksi lebih dulu dengan awak kapal, mereka mambawa nilai-nilai Barat dan toleransi,” katanya.

Sebagai budayawan, dia juga melihat bagaimana nilai-nilai lontar yang diajarkan kepada Ida Ayu Nyoman Rai menjadi filosofi hidupnya. “Buleleng itu dikenal sebagai pusatnya lontar. Dulu di situ pusat edukasi Bali. Filosofi hidup inilah yang diturunkan kepada Soekarno,” tutupnya.

10. Menjadikan Banjar Bale Agung sebagai situs sejarah bangsa

Menelusuri Jejak Kisah Rai Srimben di Buleleng, Ibu Sang ProklamatorKawasan Banjar Bale Agung tempat Ida Ayu Nyoman Rai dibesarkan (IDN Times/Vanny El Rahman)

Seluruh kisah perjuangan nan inspiratif di atas bermula dari lahan seluas empat hektare di Banjar Bale Agung. Sukarno memang tidak pernah menginjakkan kaki di Bale Agung, tapi kalau ia mengunjungi Denpasar atau Singaraja, dia pasti mengundang keluarga Bale Agung.

Ketika aku mengunjungi tempat itu, kondisi bangunannya sudah reyot. Bangunan yang diyakini menjadi lokasi Ida Ayu lahir sudah hampir ambruk. Tiang penyangga digerogoti rayap. Hanya seng penuh karat yang melindunginya dari panas dan hujan. Langit-langitnya hanya ditutupi karpet bambu lawas yang sewaktu-waktu bisa ambrol.

Untungnya, Pemkab Buleleng bersama Pemprov Bali dan Kemendibud RI sudah membuat tim restorasi cagar budaya yang akan memperbaiki kawasan Bale Agung, terlebih yang berkaitan dengan kehidupan Ida Ayu.  

Made dan sebagian keluarga Bale Agung turut terlibat di dalamnya. “Kami sudah membentuk tim pakar untuk persiapan restorasi tempat ini. Semoga tahun ini sudah bisa dimulai,” tutur Made.

Sementara, Dinas Pariwisata Buleleng sudah menjalin komunikasi dengan Pemkot Blitar untuk mengemas wisata sejarah bertajuk keluarga Sukarno. Sebagaimana dijelaskan, Ida Ayu menghabiskan masa tuanya bahkan dikebumikan di Blitar. Ini adalah upaya untuk melestarikan situs sejarah bangsa Indonesia.  

“Kalau nanti bahasanya sudah diviralkan, kabupaten/kota lain akan mencari tahu situs sejarah lainnya (yang terkait dengan Ida Ayu). Jadi nanti akan terus berkembang. Ini penting supaya anak-anak bangsa mengetahui kalau oh di sinilah Rai Srimben, ibunya Bung Karno, lahir, hidup, pacaran, bahkan meninggal,” terang Kepala Dispar Buleleng, Nyoman Sutrisna, kepada IDN Times.

Mereka semua berharap Bale Agung menjadi situs sejarah bangsa. Mereka ingin bangsa Indonesia belajar dari gubuk sederhana itu, bahwa “embrio nasionalisme” bermula dari rumah tanpa keramik. Bahwa 5,1 juta kilometer persegi luas daratan dan lautan Indonesia berakar dari tempat tinggal yang tidak lebih luas dari 4 hektare.

Baca Juga: Romantisme Sukarno: Malam Pertama dengan Fatmawati di Istana Presiden

Topic:

  • Sidratul Muntaha

Just For You