Comscore Tracker

Sektor Transportasi Drop 50 Persen Selama Pandemi COVID-19

Berdampak pada sama jenis transportasi

Jakarta, IDN Times - Selama pandemi COVID-19, sektor transportasi mengalami penurunan omzet. Dari data Kamar Dagang dan Industri (KADIN), tercatat pendapatan yang drop hingga 50 persen. Pandemi virus corona menekan bisnis sektor ini di semua moda transportasi. 

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perhubungan, Carmelita Hartoto, pihaknya telah berkoordinasi pada semua sektor usaha transportasi dan disimpulkan virus corona berdampak pada semua aspek transportasi.

1. Stay At Home jadi faktor menurunnya pendapatan

Sektor Transportasi Drop 50 Persen Selama Pandemi COVID-19IDN Times/Uni Lubis

Kebijakan pemerintah yang ditindaklanjuti dengan sosialisasi masif kepada masyarakat untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah, sekaligus penutupan lokasi wisata, telah membatasi pergerakan masyarakat di luar rumah.

"Pelaku usaha sangat memahami tujuan dari kebijakan tersebut. Hanya saja, di saat bersamaan terjadi penurunan omzet terutama di sektor angkutan jalan sejak dua bulan lalu," jelasnya.

Pada sektor angkutan barang, KADIN Indonesia Bidang Perhubungan mencatat penurunan 25-50 persen.

Baca Juga: Menteri Perindustrian: Industri Otomotif Diimbau Bayar THR Karyawan

2. Diprediksi pelaku usaha gulung tikar

Sektor Transportasi Drop 50 Persen Selama Pandemi COVID-19Ilustrasi (Dok. Humas Pemkot Solo)

Penurunan omzet pun bisa saja lebih parah pada enam bulan ke depan, seiring perpanjangan masa darurat pandemi virus corona hingga 29 Mei 2020. Dikhawatirkan banyak pelaku bisnis transportasi yang bangkrut

“Jika kondisi masih berlarut dan berkepanjangan maka diprediksi akan banyak pelaku usaha angkutan jalan yang akan gulung tikar,” ujarnya.

3. Desak pemerintah beri stimulan untuk sektor transportasi

Sektor Transportasi Drop 50 Persen Selama Pandemi COVID-19ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Pihaknya berharap ada stimulus yang diberikan oleh pemerintah akibat kondisi ini, seperti  pembebasan atas kewajiban pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Untuk sektor angkutan darat sesuai dengan PP No 15 Tahun 2016 selama 12 bulan dimulai dari April 2020,” ujarnya.

Adapun pada sektor moda transportasi udara, Carmelita melanjutkan, adanya stimulus berupa penundaan pembayaran pajak PPH 21 dan 23 selama enam bulan dimulai April 2020, penundaan pembayaran terkait biaya bandara, biaya navigasi dan biaya bahan bakar avtur selama enam bulan dimulai April 2020. Selain itu, peniadaan biaya parkir pesawat.

Sedangkan di sektor moda transportasi laut diharapkan kebijakan relaksasi pinjaman, kebijakan relaksasi perpajakan dan kebijakan dari kementerian teknis dan BUMN.

“Pada kebijakan relaksasi pinjaman misalnya, pelaku usaha moda tranportasi laut mengharapkan adanya penundaan pembayaran angsuran pinjaman, reschedule pembayaran pinjaman bank. Lain itu adanya diskon suku bunga pinjaman, pemberian modal kerja untuk membiayai A/R (account receivable) dan operasional perusahaan terutama dalam mengantisipasi THR, dan kemudahan persyaratan proses relaksasi pinjaman,” ujarnya.

Baca Juga: PHK Besar-besaran selama COVID-19, Menaker: Itu Upaya Terakhir

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya