Comscore Tracker

Transisi New Normal, Ini Sebab Pasar Tetap Ramai dan Mal Masih Sepi

Mal sepi karena banyak kelas menengah tidak punya daya beli

Jakarta, IDN Times- Masyarakat mulai beranjak memasuki fase transisi new normal atau normal baru, seiring pemerintah yang juga membuka pusat perbelanjaan dan mengizinkan sejumlah kegiatan di luar ruangan dengan protokol kesehatan ketat.

Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir, banyak pihak yang memprediksi pengunjung mal akan membeludak. Namun faktanya tidak demikian. Jumlah pengunjung mal justru relatif sedikit. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat, jumlah pengunjung hanya berkisar 20-40 persen.

1. Masyarakat hanya memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier di mal

Transisi New Normal, Ini Sebab Pasar Tetap Ramai dan Mal Masih SepiIlustrasi Mall (IDN Times/Zulkifli Nurdin)

Mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri menjelaskan, pengunjung mal umumnya mencari kebutuhan sekunder dan tersier. Seseorang yang mencari kebutuhan pokok seperti bahan makanan, justru lebih memilih pergi ke pasar.

“Orang yang ke mal bukan untuk primary good, mereka punya pilihan untuk tetap tinggal di rumah. Itulah yang menjelaskan kenapa mal relatif sepi daripada pasar,” kata lelaki yang karib disapa Dede saat mengikuti rilis survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Kamis (25/6).

Baca Juga: 2 Wisata Alam di Sumsel Kembali Dibuka

2. Masyarakat tidak memiliki daya beli karena ketidakpastian ekonomi

Transisi New Normal, Ini Sebab Pasar Tetap Ramai dan Mal Masih SepiIlustrasi perekonomian Indonesia (IDN Times/Arief Rahmat)

Dosen Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini juga menjelaskan, rata-rata pengunjung mal merupakan kelas menengah. Ia menggarisbawahi, pandemik COVID-19 tak hanya berdampak ekonomi terhadap kelas bawah tapi juga kelas menengah serta kelas atas. Sehingga sangat mungkin mereka tidak memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau tersier.

Sekalipun masih ada, sejumlah orang yang berkunjung ke pusat perbelanjaan kata Dede, diperkirakan hanya membeli barang-barang yang bukan berbasis leisure product (produk rekreasi).

“Kalau mereka (kelas menengah) gak dapat uang, mereka gak ada demand. Saya khawatir daya belinya gak muncul. Inilah yang terjadi di Tiongkok, new normal, produksi balik tapi barangnya gak ada yang beli, karena orangnya gak ada uang, bisnis jadinya gak kembali. Mungkin ini juga yang terjadi pada mal,” terang dia.

Baca Juga: Militer Indonesia Bakal Kelola Badan Cadangan Pangan

3. Mal berpotensi ditutup kembali

Transisi New Normal, Ini Sebab Pasar Tetap Ramai dan Mal Masih SepiSalah satu toko pakaian di Bigmall Samarinda yang menyajikan barang diskon dan menjadi daya tarik pengunjung menjelang lebaran. (IDN Times/Zulkifli Nurdin)

Sebagai langkah antisipasi, Dede mengimbau pemerintah mengeluarkan bantuan fiskal kepada kelas menengah agar permintaan di pasar kembali meningkat. Ia menyebut pemerintah akan membutuhkan hingga Rp90 triliun untuk membantu kelas menengah.

Jika pemerintah tidak melakukan intervensi pada kelas menengah, ia mengkhawatirkan mal kembali berpotensi untuk tutup kembali. Bahkan beberapa sektor berpotensi gulung tikar.

“Yang saya khawatir adalah mal gak banyak yang datang tapi cost (bayar pegawai, sewa, dll) besar, gak berapa lama dia dengan sendirinya akan tutup lagi,” sebutnya.

Baca Juga: PHK 430 Karyawan, Ini Daftar Pesangon yang Diberikan Gojek 

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya